25 February 2007

Tukang Kebun Gatal 2


Pada seri 1 sudah diceritakan latar belakang Robby dan Ripin. Inilah seri paling menegangkan mengenai dua tokoh ini.

==============
Setelah sarapan pagi, Ripin menyiapkan semua gunting, gergaji, pisau, cangkul dan peralatan taman lain. Tak lupa diangkut pula dua pot tanaman Euphorbia pesanan Pak Robby. Dinaikkan semua barang-barang ke atas motor butut yang tak jelas lagi mereknya. Lalu dia melaju ke perumahan elit tempat Pak Robby tinggal. Ini hari janjian untuk merawat taman Pak Robby selama 3 hari ke depan.
Ting tong... ting tong... diamati sekali alamat rumah itu. Ah benar kok! Sebuah rumah yang cukup mewah untuk seorang bujangan. Berada di hook dengan seberang jalan adalah tepi perumahan. Jadi rumah Pak Robby termasuk di pojok. Bila diamati dari luar taman Pak Robby tidak terlalu besar seperti yang disangka semula. Bila ditambah dengan taman kolam yang ada di belakang. Mungkin kerja 3 hari bisa diselesaikan dalam 1 atau 1,5 hari saja.
"Cari siapa ya?" tanya seorang lelaki yang mengenakan sarung bali dengan kaus ketat di bagian atas.
"Ini saya pak, Ripin. Kita su.."
"Ooohh kamu Pin. Masuk, masuk, kirain siapa." Kata Pak Robby sambil membuka pagar lebih luas.
Ripin memasukkan motor buntut dan diparkir dekat pintu.
"Sudah sarapan belum? Kebetulan saya sedang sarapan." Ujar pak Robby sambil menepuk punggung Ripin yang liat.
Ripin jadi sungkan. "Sudah, sudah Pak." tukasnya.
Mereka lalu berhenti sebentar. Pak Robby tampak berpikir.
"Baiklah kalau begitu langsung saja kamu mulai membereskan taman depan dahulu. Silakan!" tangan Pak Robby terbuka ke arah taman.
"Baik Pak, mari.." Ripin segera ke arah motor lagi untuk mengambil peralatan
.=================

___________________
Ini hari libur pertama untuk hari kejepit. Ahh enaknya tanpa kesibukan kantor. Sebetulnya bukan tanpa kesibukan kantor sama sekali. Karena sore nanti aku ada janji menemani customer dari italia. Kami akan membicarakan sebuah tender perusahaan di Italia selatan. Rencananya perusahaan kami akan bermitra dengan perusahaannya. Aku suka orang Italia, sexy, termasuk si Rodrigress ini.
Pagi ini aku berencana berjemur telanjang sambil menikmati roti Croissant dan kopi dari Toraja. Ahh kenikmatan tiada tara. Seperti biasa kulakukan semuanya dengan bertelanjang. Aku suka bertelanjang di dalam rumah. Tapi tentu tidak sampai ke luar rumah atau aku akan ditangkap petugas dinas sosial.
Pada awal telanjang di dalam rumah, kontolku selalu menegang. Tetapi lama kelamaan biasa dan kontolku tidak mudah mengegang lagi, kecuali seperti kuinginkan. Kontolku dan pelerku ikut bergoyang-goyang seksi. Terkadang kalau lewat cermin, kontolku mengegang karena sepertinya da pria telanjang yang menemaniku
Ting tong... "aduhh siapa lagi pengganggu di hari libur begini sih?!" kataku kesal.
"Iya iya..." aku berkata sambil menuju ke pintu. Kubuka sedikit tirai jendela ada seorang lelaki bertopi di depan sana.
Lalu aku berbalik ke kamar untuk mengambil sekadar pakaian. Kutemukan sarung bali dan kaus ketat.
"Ooo ternyata kamu Pin. Masuk yuk!" kuajak masuk tukang kebunku setelah aku mengenali.
Kurangkul dia. Wah tiba-tiba saja kontolku berontak ingin keluar dari sela-sela sarung. Untung saja bentuk kain bukan putih polos. Jadi gundukan kontolku tak kentara. Ahh aku jadi tak bisa konsentrasi lagi. Ingin rasanya langsung kupeluk dan kucium lelaki ini untuk adu kontol mencari kepuasan seperti DVD yang semalam kutonton.

Kuajak sarapan dia menolak. Ya sudah ... kusuruh dia langsung kerja saja. Lagian sudah beberapa minggu kebunku menunggu disentuh. Sebenarnya aku juga ingin disentuh. Sudah beberapa bulan aku tidak ml dengan wanita ataupun lelaki.
_________________

===============
Udara terasa panas menyengat. Bajuku telah kuyup dengan keringat. Aku berusaha bekerja secepat mungkin. Botol minum air putihku hampir kosong. Seperti biasa aku menggunakan celana panjang dan baju panjang usang sebagai seragam kerjaku. Pertimbangannya tidak sayang apabila terkena tanah atau lumpur atau kotoran lain. Sementara ini hampir dua pertiga taman depan hampir selesai dibereskan. Saat itulah Pak Robby keluar.
===============

_________________
Setelah berjemur sampai jam 9 aku lanjut dengan berenang setengah jam. Tiada hari tak kulewati tanpa berenang di pagi dan sore hari, kecuali waktu sakit atau tak enak badan. Jam 10an aku masuk untuk membuat sarapan daging Salmon dengan salad buah. Minumnya jus Alpukat, sungguh nikmat. Sedang setengah makan aku teringat kalau di depan ada tukang kebun. Ya ampun dia belum kuberi minum.
Aku memakai celana boxer tanpa atasan. Lalu kuambil sebotol air minum dan dua apel sekedar untuk jajan.
"Pin, nih minumannya...!" teriakku ke seberang taman.
Sejauh ini sudah lumayan rapi. Aku suka kerja si Ripin cepat dan bisa memperindah taman. Wajahnya penuh keringat yang telah diseka berkali kali pada kausnya. Bajunya pun basah oleh keringat. Hmm keringat seorang lelaki jantan. Ah tiba-tiba kontolku berdiri lagi.
Segera kuambil posisi duduk di tangga ke taman untuk menenangkan kontolku. Ripin menghampiri minuman yang ada di dekatku.
"Panas Pin?" tanyaku basa-basi.
"Iya pak. Tapi biasa lah.. namanya juga orang kerja di taman." jawabnya polos.
"Kalau gerah copot baju saja. Tidak usah sungkan. Lagian kan kita seumuran dan sama-sama lelaki. Terkadang kalau di rumah aku saja lepas baju, malah terkadang telanjang karena tak tahan." kataku terus terang memancing.

Ripin membuka kancing bajunya tapi tak semuanya. Dada tampak berisi, sementara otot perut terpahat baik seperti aktor porno yang gambarnya sering kuunduh dari komputer. Kulitnya coklat tua agak hitam. Dikeluarkan sebatang rokok.
"Pin, jangan merokok! Itu tak sehat loh!" sergahku sebelum Ripin mengambil korek apinya.
Ripin merasa sungkan lalu menyimpan rokoknya kembali.
_________________

===============
Kudekati Pak Robby yang membawa segelas air es segar dan dua buah berwarna merah, sepertinya apel mahal. Boleh nih untuk yang sedang haus begini. Waktu aku mendekat Pak Robby duduk di tangga dengan kaki terkangkang. Tampak bulu jembutnya dari pinggir celana. Sepertinya dia tidak memakai celana dalam di balik celana pendeknya.
Kuambil air minum dan kuposisikan dudukku untuk bisa mengamati isi celana dalam itu dengan lebih fokus. Pahanya dan badannya putih bersih, berototot. Tampak sekali kulitnya terawat seperti wanita. Aku suka yang seperti ini. Bahkan karena pikiran yang melayang-layang tanpa sadar kubuka kancingku untuk membiarkan badanku didinginkan angin.
Seperti reflek tanganku mengambil rokok. Sedang mataku kadang masih terpaut ke arah dekat paha yang tidak lagi mengangkang lebar. Sampai Pak Robby mengagetkanku untuk tidak merokok.
"Kamu sudah beristri Pin?" tanya Pak Robby mengagetkanku lagi.
"Be be.. lum pak." aku jadi salah tingkah karena tak ada rokok.
Pak Robby menyodorkan apel sebagai pengganjal perut. Kuambil dan langsung kugigit tanpa sungkan.
"Jadi sering onani atau ngeloco dong!" tuduhnya
"Iya lah... apalagi kalau melihat bawahan saya. Mereka membuat saya tak tahan....." tiba-tiba suasana hening.
Ada suatu pertemuan pengertian antara aku dan Pak Robby.
=================



___________________
Kuberanikan berbicara dengan lebih berani.

"Sering masturbasi dong...?" tanyaku mengambang setelah kutahu kalau Ripin belum beristri.
"Iya Pak. Apalagi sewaktu melihat anak buah saya." katanya melanjutkan keterangan cerita kemarin di telepon.
Tiba-tiba pandangan Ripin menusuk hatiku. Ada nafsu di matanya. Nafsu yang sama seperti yang sedang membara saat ini. Ingin kualihkan pandanganku tapi terkunci oleh pesonanya. Aku menginginkan pria di hadapanku ini.
"Kita ke dalam saja yuk ... nggak enak kalau disini." ajakku.
Ripin mendahuluiku dan kututup pintu rapat di belakangku. Tiba-tiba Ripin berbalik dan berdiri sangat dekat denganku. Kurasakan hawa hangatnya. Kurasakan keinginan dan nafsunya. Dengusan nafas penuh birahi. Kami berdiri sangat dekat.
___________________

=================
"Pin tiba-tiba aku kepingin ngeloco, bisa bantu?" tanya Pak Robby setelah di dalam.
"Saya....?" tiba-tiba saja aku jadi lebih bodoh dari biasanya.
"Iya, kalau kamu tidak keberatan. Aku kepingin merasakan seperti yang dirasa kontolmu waktu diloco sama tanganmu." kata Pak Robby menarik tanganku diarahkan ke gundukan kontolnya.
Ada sesuatu keras dan berdenyut di sana. Entah belajar dari mana tiba-tiba saja tanganku sudah mulai meremas-remas dan menarik kontol Pak Robby. Memang benar di belakang celana tipis ini tidak terdapat celana dalam.
"Aaahhh enak Pin. Terus Pin..." tapi rasa sungkanku masih ada. Kuhentikan perbuatan itu.
"Pin, kamu tidak usah sungkan. Aku suka badanmu dari sejak pertama kita bertemu. Aku suka kamu. Berikan aku kenikmatanmu Pin.... kubuka bajumu ya...?"
Pak Robby membuka bajuku satu persatu.
=================
___________________
Kubuka baju Ripin. Ah dadanya yang gempal dan kulitnya yang gelap hmmm jantan sekali. Kilat karena keringat masih nampak sisanya. Perutnya membentuk petak-petak bujur sangkar sebanyak enam buah.
Kutarik celananya dan kupelorotkan. Ternyata tidak ada celana dalam di sana. Kontol Ripin yang juga sudah tegang berayun-ayun ke perutnya. Jembutnya tak tercukur dan dibiarkan menggondrong liar. Aku berlutut hendak mencium kontolnya tetapi tangan Ripin menahanku.
"Pak..." cegah Ripin tampak keberatan.
"Tenang aja Pin, tak apa-apa ..." ujarku meyakinkan seraya menyingkirkan tangan Ripin dari pipiku.
Bibirku menempel pada batang kontolnya yang besar dan berwarna coklat tua. Bau khas kelamin lelaki jantan terhirup dari antara jembut keriting yang tumbuh di sekitar pangkal batang kemaluan. Ciumanku membuat napas Ripin jadi tak teratur.
__________________

================
Dibuatnya aku tanpa selembar benang pun. Aku tak berdaya. Tak ada keinginanku mencegahnya. Aku menyayanginya dan membiarkan dia melakukan yang dia mau terhadap tubuhku. Tiba-tiba Pak Robby berlutut dihadapanku. Aku kaget.
"Jangan Pak..." larangku ketika dia mendekatkan wajah ke kontolku.
Aku merasa sungkan, masakan kontolku yang biasa untuk kencing diciumi Pak Robby. Aku rasa itu tak pantas.
"Tenang aja Pin, tak apa-apa..." kata Pak Robby sambil memandangku meyakinkan.
Akhirnya kubiarkan kontolku diciumi. Aku jadi ingat ketika si Parno hendak mencium kontol Tejo.Ternyata rasanya uuuhhhh nikmat. Kontolku yang sudah tegang jadi lebih tegang lagi. Apalagi ketika dikecup, lemas rasa lututku.Ahhhh...hhh...
Apalagi ketika kurasa kontolku ada di dalam lubang hangat dan basah. Ya, ketika kutengok kontolku telah lumat amblas di dalam mulut Pak Robby. Bibirnya yang merah ada di sekitar batang kontolku yang kecoklatan dan nampak berurat mengkilat. Tak tahan untuk tidak terpejam saat itu. Wuuuuu hhh ahhhh ... terasa sengatan-sengatan halus di sekitar batang kontolku. Uuuuuhhh heeennnaaakkkkkk ahhhh....
==================
____________________
Kudorong Ripin ke sofa kulitku yang berharga di atas 10 juta. Badannya matching sekali dengna warna coklat sofa yang klasik. Kugenggam pangkal kontolnya. Kujilati kontol besar itu dari bawah ke atas. Kontolnya sangat nikmat. di samping badannya yang begitu pejal enak di remas sana dan sini. Ripin mendesah tertahan keenakan, sepertinya ini pertama dia merasakan diberi kenikmatan.

Ujung payudara Ripin kupijit-pijit lembut. Dia bergelinjang menikmati kenikmatan ganda. Aku senang membuatnya tergelinjang begitu.
_____________________

===================
Pak Robby memang gila. Aku didorong duduk di sofanya yang empuk dan hangat. Kontolku dijilatinya dan ujung tetekku dipilin-pilin. 'Uuuhhhh gila.... enaaaakkkk bangethhhh!'. Sudah tidak ada lagi rasa malu bertelanjang dan dijilati pria. Hanya ada kenikmatan belaka.
Tubuhku terasa melayang. Aku kehilangan berat badanku. Tak peduli yang Pak Robby lakukan. Aku hanya menikmati dan menikmati. Haahhh haahhh uhhh.....
===================

_____________________
Tak tahan untuk tidak meniduri Ripin. Kubuka celana boxerku, seketika kontolku yang sudah tegak sedari tadi teracung. Kurebahkan ripin dan kutindih di atasnya. Kontol kami bersentuhan , hangat rasanya. Kuciumi muka Ripin, badannya terasa agak lengket karena keringat. Aku tak peduli. Ripin tampak kegelian.
Tangan Ripin tak bisa diam, rupanya dia juga sudah ingin menikmati tubuhku. Punggung dan kepalaku dielus sayang. Seperti gerakan seorang suami kepada istrinya. Sayaanngg sekali... Sebenarnya aku agar risih diperlakukan seperti wanita. Tapi kubiarkan supaya aku tetap bisa menikmati tubuhnya.
Dalam kurun waktu sebentar saja. Ciuman pipi, hidung dan kening sudah berubah jadi ciuman bibir yang ganas. Ripin yang semula diam kini ikut ganas menyedot bibirku. Yang terdengar hanya suara tertahan. hmmppff h... hmmm dan kecipak bibir yang terlesaps sesekali..
_____________________

===================
Sedang enak-enaknya kontolku dikulum Pak Robby, tiba-tiba dia berhenti. Badannya menunduk dan melepas celananya. Kami sama-sama telanjang. Pak Robby naik ke atas sofa juga lalu menindihku. Sekilas tampak kontolnya yang panjang dan berwarna memerah bersunat juga. Bau wangi segar segera tercium saat kepalanya mendekati kepalaku.
Sementara kontol Pak Robby terasa hangat mengganjal hingga menyentuh pusarku. Badannya putih bersih dan benar, kulitnya halus seperti dugaanku semula. Pak Robby menyiumi tiap senti wajahku. Awalnya aku merasa geli, namun setelah kubalas keliarannya... hmmmfff kupagut bibirnya dan ahhh nikmat benar bibir merahnya.
Bibir kami beradu seperti ikan cupang. Kusedot bibirnya, Pak Robby tampak birahi sekali kepadaku. Aku pun demikian. Aku menyayanginya. Badan Pak Robby terasa hangat, halus, harum. Ahhh .... Yu jamu kalah harum, heiii kenapa aku berpikir tentang Yu Jamu?
Sementara Pak Robby sibuk dengan bibirku, aku menggerayangi punggung hingga pantatnya. Kucari lubangnya dan kutusuk-tusuk dengan jariku.
====================

_______________________
Sensasi ditusuk jari Ripin sangat bebeda ketika ditusuk jari Doni teman kencanku. Jari Ripin itu keras dan kasar. Anusku sampai terkedut kaget karena itu. Ripin paham dan dia berlaku lebih lembut setelah itu.
Aku suka yang Ripin lakukan tapi aku tak ingin cepat-cepat menyelesaikannya dengan satu semburan sperma. Aku berhenti dan berdiri dari tubuh Ripin.
_______________________

====================
"Maaf, Pak kalau saya sudah keterlaluan" kataku sambil berusaha mencari celanaku.

"Tidak. Tidak.. tidak begitu Pin. Aku tidak masalah kalau kau ingin anal .... e... ingin nusuk aku. Tapi nanti, jangan cepat-cepat." ujar Pak Robby.

Sungguh aku tidak mengerti maksud Pak Robby. Kenapa kalau kita sedang nikmat harus berhenti di tengah jalan begini? Kan nanggung jadinya.... Di wajah Pak Robby memang tak nampak kemarahan sama sekali.
"Kita berenang saja dulu yuk... nanti kita lanjut" ajaknya.
"Renang ???"
===================

_____________________
Ripin tampak kebingungan. Aku hanya ingin jeda sebentar. Ini adalah taktikku mendapat kenikmatan lebih lama dari Ripin.
_____________________

(Bersambung)
nb: Bagi yang sudah tak tahan mau onani ya... silakan aja. Tapi sorry ceritanya memang sepertinya harus bersambung sampai di situ. Klo kalian bisa sabar... tunggu!

22 February 2007

Kisah TEJO dan PARNO bag 2

(Diceritakan oleh Ripin, Si Tukang Kebun)

Seharian setelah acara gesek-gesekan kontol mereka bekarja seperti biasa. Aku sendiri merasa agak lemas. Dua kali muncrat semalaman. Untung saja Yu Jamu datang pagi itu. Langsung saja aku minta jamu kuat lelaki dan kuku bima.

"Walahhh mas Ripin ini, semalam sama sapa hayoo..." ledek Yu Jamu tersenyum simpul
Ripin hanya tersenyum. Alisnya dijengitkan menggoda Yu Jamu.
"Berapa kali mas?" tanya Yu Jamu malu setengah berbisik tapi ingin tahu.
"Situ mau memangnya?" tanya Ripin langsung tembak saja. Ripin menenggak jamu sekali sampai habis tandas.
"Berapa Yu?" tanya Ripin lagi.
"Oalahh mas.. mass.. kalau sama mas Ripin ndak perlu bayar kok. Lha wong Yu Misem penjual jajan sama Yu Darmi tukang sayur juga suka lo.." kata Yu Jamu nyerocos.
"Mmm maksud saya jamunya!" tegas Ripin.
"Oalahh itu tho, biasa mas 2.000 perak saja." Yu jamu tersipu.
"Lha terus yang ndak perlu bayar tadi apa Yu?" tanya Ripin meledek.
"Sudah ah mas.. makasih ya. Eh, kalau memang suka nanti kapan-kapan mas Ripin jemput saya buat nginep di sini." jawab Yu Jamu membuat undangan genit.

***
Sampai sore hari Tejo dan Parno masih bekerja seperti biasa. Mengganti pot, menambah pupuk, menyiangi rumput, dan menanam beberapa benih baru. Semua dilakukan dengan semangat. Sesekali kupergoki mereka sedang mengobrol dengan setengah berbisik. Seperti menyimpan rahasia terhadapku. Mungkin malam ini mereka punya rencana.
Sore ini tidak hujan maka tugas mereka bertambah tugas menyiram untuk tanaman-tanaman yang tidak tahan kekeringan. Mereka menyelesaikan dengan cepat. Segera mereka membenahi segala peralatan kerja dan mereka berdua mengambil handuk menuju ke sumur.
Sebelum mandi Tejo dan Parno mengangkat barbel yang dibuat dari semen. Mereka bertelanjang dada. Aku tidak tahan untuk tidak mengamati mereka. Setelah membuat kopi, aku naik ke kamar atas untuk mengamati kegiatan di sumur dengan lebih jelas.
Kunyalakan rokok dan kusesap kenikmatan kopi panas. Rasanya kelelahan sehari disiram tenaga dari dua elemen ini. Kutarik kursi santai ke dekat jendela. Jantungku berdegub karena hendak menyaksikan adegan-adegan seru yang mungkin terjadi di acara mandi sore ini. Sebetulnya hatiku gundah dengan kelakuan mereka tapi yang lebih meresahkan aku suka.
Parno menyusul Tejo yang sedang menimba air di sumur. Ditutupnya pintu dari anyaman bambu. Parno membuka celana kerja, wah ternyata dia tidak mengenakan celana dalam seharian ini. Saat berbalik badan, kilat keringat membuat lekukan otot tambah jelas. Belahan dada yang gempal juga bisep dan trisep terbentuk baik. Perutnya tampak liat berkotak-kotak. Di bawah perut kontolnya setengah tegang lemas menggantung dan tampak membesar.
"Gila kamu No. Baru liat aku nimba air di sumur saja sudah ngaceng!" Goda Tejo.
"Enak saja." timpal Parno saling meledek.
Tejo menyelesaikan kegiatan menimba. Sebentar kemudian dia pun sudah telanjang. Sementara Parno tanpa malu sedang mulai mengocok kontol supaya ereksi penuh.
"Iya neh aku juga ingin kenikmatan." ujar Tejo mendekati Parno sambil mengocok juga.
Tanpa sungkan lagi mereka sudah berpelukan. Mereka saling mencium satu sama lain. Mereka tak ubahnya pasangan pria dan wanita yang sedang bercumbu. Ini lebih masyuk dari yang tadi pagi aku saksikan. Mereka tampaknya tidak sadar kalau mereka itu sesama jenis.
Hatiku merasa gundah dan resah. Benarkah yang kusaksikan? Tapi otakku tak sempat berpikir mengenai benar dan salah. Kenikmatan mendorongku kuat untuk ikut merasa kenikmatan itu. Tanganku bergerak membuka baju dan celanaku. Kontolku sudah tegang di belakang celana dalamku. Aku mengocoknya dan kontolku mencapai ketegangan penuh.
Sementara di sumur Parno melakukan kegiatan seperti tadi pagi. Tangan kanannya tampak mengocok kontol mereka berdua dalam satu genggaman. Kedua tangan Tejo memegang kepala Parno dan bibirnya melumat bibir Parno. Satu tangan Parno yang tidak mengocok digunakan untuk menusuk-nusuk pantat Tejo. Tampaknya Parno ingin memasukkan kontolnya ke sana nanti.
Begitu tegangnya tak terasa api rokok sudah dekat sekali dengan jari telunjuk dan tengahku.
"AWWW..." teriakku kencang.
Kulihat Tejo dan Parno berhenti bergerak tetapi masih berpelukan. Mereka mencurigai kalau-kalau ada yang mengintip kegiatan mereka. Namun sebentar saja mereka meneruskan kenikmatan mereka.
"No coba tusuk pantatku dengan kontolmu seperti di gambar itu." kata Tejo sambil mengambil posisi kaki kiri terangkat sedang badan membungkuk ke depan. Mereka berbicara tentang gambar di majalah porno gay yang semalam mereka lihat bersama.
Parno mendekatkan kontol yang telah tegang berdenyut itu ke lubang dubur Tejo. Dipegangnya batang yang sedari tadi mengarah ke atas. Ujung kontol yang seperti jamur itu diletakan di pusat lubang dubur Tejo. Ditekan kuat-kuat kepala jamur itu hingga Tejo terdorong ke depan. Tapi sayang, ternyata kontol Parno belum juga masuk.
"Wah sempit Jo, apa punyaku kegedean ya?" ujar Parno bingung. Rupanya ini pertama kali untuk Parno.

Bagiku ini juga pertama kali menyaksikan adegan begini secara langsung dan bukan di gambar.
"Coba lagi No, di gambar bisa kok." Tejo menyemangati.
Sekali lagi Parno mengarahkan kontol besarnya ke lubang dubur yang kini sudah dilebarkan dengan jari jemari Tejo. Tapi ternyata gagal.
"Kontolmu diberi sabun dulu saja biar licin." Tejo memberi usul.
Akhinya Parno melumuri seluruh batang kontolnya dengan air sabun. Lalu dia mencoba menusuk lubang pantat Tejo sekali lagi. Ternyata bukannya lebih mudah malahan lebih susah mengarahkannya. Kontolnya jadi licin dan lebih sering terpeleset ke kanan dan ke kiri. Parno sampai harus menggenggam batang kontolnya supaya tidak lari dari titik lubang.
Sampai akhirnya kulihat pelahan namun pasti pantat Parno maju pelan tapi pasti. Seperti seorang mantri sedang memasukkan jarum suntik. Ya, Parno sedang menyuntik pantat Tejo. Sementara itu wajah Tejo memerah menahan tusukan. Pantat Parno terhenti pada titik tertentu. "Gimana Jo, kamu ngga apa-apa?" Parno khawatir melihat wajah rekannya yang tampak kesakitan.
Tejo tidak menjawab, dia masih membiasakan diri dengan benda yang menusuk dubur. Lama Tejo dan Parno dalam kondisi sedemikian rupa. Mereka tak bergerak. Momen itu terekam jelas dalam otakku dan tak kan pernah terhapus seumur hidupku. Saat itu baru aku sadar kalau wajahku sudah menempel di kaca jendela kamarku. Masih telanjang.
Sejenak kulihat kontolku tidak menegang tapi tergantung lemas. Aku terlalu tegang melihat hal yang tak pernah kulihat. Sesaat aku khawatir kalau-kalau aku impoten. Kukocok kontolku dan ternyata dengan mudah dia berdiri lagi. Menegang ke ukuran terbesar.
Kutengok lagi Tejo dan Parno di bawah. Pantat Parno sudah maju mundur dengan irama tetap. Sesekali Tejo masih tampak kesakitan. Tapi kali ini wajahnya tidak semerah sewaktu ditusuk pertama tadi. Kedua tangan Parno memegang pinggang Tejo untuk mengendaalikan gerakan. Gerakannya cukup cepat dan dari wajah Parno terlihat kenikmatan yang tak terkira.
Sekali lagi.. aku merasa aku pernah mengalaminya. Aku merasakan kenikmatan yang Parno rasakan. Aku mengocok kontolku sendiri. Aku bermasturbasi menikmati pertunjukan hidup Tejo dan Parno. Aku merasa di antara suka dan tak suka. Aku merasa salah tapi tak peduli. Lebih kupedulikan nafsu kenikmatanku.
Pantat Parno masih dengan teratur maju mundur. Pantatnya bergetar seiring dengan masuk dan keluarnya kontol dari dubur.
"Jo ini rasanya enak banget...hh Jo..!" Parno membagi rasa.
Tejo yang sedang ditusuk diam saja. Bagi Tejo ada sensasi lain duburnya dirojok oleh kontol Parno. Ini pertama dalam hidupnya. Awalnya terlihat sakit sekali. Tetapi saat ini mungkin rasa itu sudah jauh berkurang. Dia hanya merasa duburnya penuh.
Tanganku mengocok kontol seirama dengan hentakan kontol Parno.Aku merasa hampir keluar.
Tubuh Parno bekerja dengan keras. Keringatnya tampak banyak. Tubuhnya mengkilat ditimpa sinar matahari memerah karena hampir tenggelam. Gerakan tubuhnya yang lincah menusuk pantat Tejo membuat Tejo berguncang-guncang. Tubuh Parno bergoncang hebat dan tiba-tiba terdiam. Kontolku memuncratkan sperma. Ya kami muncrat bersama.
Parno segera mencabut kontolnya. Tampak panjang dan berwarna merah mengkilat. Tak terlalu jelas memang tapi kuduga ada banyak kotoran manusia di sana. Parno segera membasuh kontolnya bersih-bersih bahkan sebelum lemas benar.
Tiba-tiba saja suara adzan bergema.
Astaqfirullah alazimm....
***

Malam hari yang panjang bagiku. Untung ada Pak Robby tempat berkonsultasi. Malam itu aku agak lega dengan satu keputusan menegor Tejo dan Parno. Alasannya adalah mereka dalam asuhanku, orang tua mereka percaya kepadaku. Memang lain dengan struktur kerja di perusahaan. Kerja seperti kami, hubungan kemasyarakatan tetap dibawa.
Keesokan harinya sewaktu minum kopi setelah mandi pagi, kami duduk bertiga.
"Begini Parno dan Tejo..." ah, terasa sangat sulit untuk memulai.
Akhirnya kupaparkan apa yang aku tahu. Kukatakan bahwa aku tahu mereka membaca majalah porno. Mereka saling mengonani satu sama lain. Tapi sama sekali tak kukatakan yang kutahu dari atas sumur. Curang sedikit sih.. tapi demi wibawa.
Aku katakan, "...(aku) memahami birahi kalian, mas dahulu juga begitu. Tapi terus terang mas berusaha mengurangi dengan menyibukkan diri dalam kerjaan dan berolah raga. Mungkin kalian bisa gunakan....".

Kuselingi juga beberapa ajaran agama yang kuketahui. Tejo dan Parno menunduk selama kuberitahu.
Di akhir semua nasehatku, aku kembalikan semua pilihan pada diri mereka masing-masing. Apa mereka akan berhenti atau akan melakukan dengan segala resikonya. Satu hal yang tak kuinginkan adalah mereka mencemarkan nama baikku di depan orang sekampung.
SELESAI

Kisah Tejo dan Parno 1 <<<<Sebelum                                               Sesudah>>>> Tukang Kebun Gatal 2

12 February 2007

Kisah TEJO dan PARNO bag 1



(Diceritakan oleh Ripin, Si Tukang Kebun)


Awalnya Tejo dahulu yang jadi asistenku, sebulan kemudian Parno menyusul. Musim kemarau ini saat banyak tanaman memancarkan bunganya. Saat banyak pelanggan jalan-jalan sore dan membeli tanaman. Saat kemarau seperti ini juga banyak orang kaya butuh tukang taman untuk memelihara tanaman yang lupa disiram. Mereka ingin tanaman mereka tetap tampak hijau tanpa peduli air tanah yang dikonsumsi.

Tejo dan Parno pemuda desa polos yang menginjak usia 17an. Nafsu sex mereka sedang tinggi-tingginya. Aku tahu karena mereka sering beronani ketika mandi. Baik mandi pagi maupun mandi sore. Kebetulan dari jendela kamarku di bagian atas aku bisa melihat semua kegiatan mereka tanpa mereka ketahui. Awal-awal perkenalan mereka sih mereka mandi sendiri-sendiri tapi belakangan mereka lebih sering mandi bersama, baik pagi maupun sore.

Badan Parno dan Tejo sebenarnya hampir sama agak berotot. Bedanya cuma rambut, Rambut Tejo ikal sedangkan Parno lurus. Mungkin kalau digundul tidak ada yang bisa membedakan. Hitamnya sama, tinginya sama, bibirnya pun mirip, mungkin memang mereka masih saudara jauh kali....

Menjelang musim hujan di bulan September pekerjaan mereka mulai berkurang. Kegiatan paling melelahkan adalah menyiram tanaman. Kini hujan menggantikan mereka. Namun kurangnya kegiatan akan segera diganti dengan banyaknya langganan yang direpotkan dengan rumput liar dan tanaman yang tumbuh lebih cepat. Sore hari setelah mandi Parno dan Tejo sering pergi berdua entah kemana. Mungkin seperti pemuda yang lain, jalan-jalan atau sekedar ngeceng (bukan ngaceng!).

Malam sebelum kejadian itu, aku mendengar Tejo dan Parno mengobrol sampai malam. Kamar mereka adalah ruang tamu yang merangkap kantor di bawah. Oh ya jangan membayangkan bangunan tempat tinggalku itu mewah seperti milik kalian, para pembaca. Dindingnya terbuat dari bambu anyam sedang untuk memisahkan ruang bawah dan atas hanyalah papan, itu pun papan bekas yang tambal sana-sini. Jadi tak aneh kalau aku bisa mendengar bisik-bisik dan cekikik mereka di bawah.

Rasa kantukku menyerang sangat dahsyat sehingga aku ketiduran. Entah sampai jam berapa mereka ngobrol. Sekitar jam 3 pagi aku terbangun dan ingin kencing. Aku turun dari kamarku. Sebelum ke sumur, aku sempat menengok kalau-kalau mereka belum tidur. Pamandangannya sungguh ajaib Mereka tidur di lantai. Padahal biasanya Tejo sebagai senior memilih tidur di sofa yang lebih empuk. Tangan kiri Parno terselip di perut Tejo. Aku tak berpikir jauh mereka mungkin kedinginan sehingga tidur berpelukan.

Setelah aku kencing, sekelebat aku kembali tengok mereka. Posisi mereka belum berubah. Aku melihat lebih jelas karena tadi dari tempat yang gelap. Ada sebuah majalah di atas sofa. Tergeletak terbuka. Tepat gambar seorang pria sedang menyodomi seorang pria. Kontolnya kelihatan separuh cukup besar. Pria yang disodomi menampakkan kenikmatan (atau kesakitan). Majalah itu aku ambil. Di halaman lain banyak terdapat gambar-gambar pria berotot yang bugil alias telanjang bulat. Halaman depannya hilang dan bahasanya pun tak dapat kumengerti mungkin bahasa Jerman atau Belanda, entahlah.

Melihat majalah itu aku jadi ngaceng berat. Majalah itu kukembalikan ke posisi semula. Sebelum aku berbalik, bila kuamat-amati si Parno tidak memakai celana di balik sarungnya. Jangan-jangan Tejo pun begitu. Mungkin mereka telah saling memberi kenikmatan tadi.

Kuberanikan diri mengangkat sarung Tejo. Dasar anak puber, tidurnya pulas sekali. Kulihat peler si Tejo dalam kegelapan. Sewaktu kuangkat lebih tinggi lagi ah.. ada tangan, ya tangan si Parno masih menggenggam kontol si Tejo yang sudah mengkeret. Beberapa detik cukup merekam segala detail bentuk itu, masih kuingat, buktinya aku bisa cerita. Aku jadi penasaran dengan kontol Parno. Aku angkat sarung Parno tetapi sayang sarung itu tersangkut dan tidak bisa diangkat lebih tinggi tanpa membangunkan pemiliknya.

Aku kembali ke tempat tidur lagi setelah itu. Aku jadi tak dapat tidur teringat segala adegan yang telah aku lihat di dalam majalah tadi. Kontolku ngaceng berat dan terasa ngilu. Ah, daripada besok lemas karena kurang tidur aku memilih untuk onani. Seperti biasa akhinya aku mengocok sambil membayangkan segala yang terjadi antara Tejo dan Parno serta adegan-adegan di majalah tadi.

***

Jam setengah enam pagi aku dengar ada orang menimba sumur. Hmm rupanya memang benar Tejo dan Parno telah saling onani semalam. Buktinya mereka akan mandi junub pagi-pagi begini. Hari belum terang benar sehingga aku tidak berani buka jendela lebar-lebar. Aku hanya bisa mengintip mereka dari balik kain bekas iklan penutup jendela kamar.

Tejo telah telanjang bulat dan sedang mandi. Sedang Parno menimba sumur untuk memenuhi bak yang ada. Bunyi keletek timba dan deburan air ke dalam bak berganti-ganti. Sekarang Tejo mulai menyabuni tubuhnya dengan cepat. Tiba-tiba Parno membuka seluruh pakaian dan menyiramkan air di dalam timba ke tubuhnya.

"Berikan sabunnya" pinta Parno kepada Tejo yang masih menyabun.

"Nanti dong! atau kalau butuh sabun gesekkan aja badanmu ke badanku." kata Tejo menantang.

Parno tampak ragu. Dia mulai menggosokkan lengan ke punggung Tejo. Lalu punggungnya ke punggung Tejo. Pantatnya ke pantat Tejo. Mereka tampak lucu, seperti dua badut beradu pantat. Ingin rasanya aku tertawa sendiri. Tejo tampak cuek dan tetap menyabun bagian kakinya. Namun karena bagian belakang sudah habis sabunnya Parno berpindah ke depan dan memeluk Tejo dari depan dan mulai menggosok dadanya ke dada Tejo. Otomatis semua menempel termasuk kontol mereka.

Sekarang Tejo yang tampak kaget menghadapi pelukan Parno tak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba tangan Tejo yang ada di samping pinggang Parno mulai memeluk Parno dan menggosokkan sabun ke punggung Parno.

"No, terusin No, enak No!" ujar Tejo.

Rupanya Parno pun menikmati gesekan mainan jadi gesekan kenikmatan. Pantatnya tidak lagi ke samping kanan dan kiri namun menekan lembut ke atas dan bawah. Parno menggosokkan kontolnya ke perut Tejo, atau ke ke kontol Tejo aku kurang jelas. Yang jelas mereka berdua tampak kenikmatan.

Kejadian itu berlangsung entah beberapa puluh menit. Aku yang memandang mulai meremas kontolku sendiri. Kontolku mengeras melihat adegan itu. Kubuka kausku dan kupelorotkan sarungku. Aku telanjang dan ngaceng di kamar sendiri. Nafasku jadi cepat tanganku bergerak mengocok seirama dengan hentakan pantat si Parno.

Sabun di kedua tubuh anak muda mulai mengering. Tangan Tejo mendorong tubuh Parno. Tejo mengambil air dan mulai membasahi sabun di tangannya. Sabun dikocok sampai berbusa. Kontol Parno yang menganggur ditariknya mendekat. Lalu didekatkan pula kontolnya ke kontol Parno. Kedua kontol disabuni biar licin lalu disatukan dan pantat mereka bergerak untuk mencari kenikmatan masing-masing. Inikah onani bersama?

Kontolku kugenggam sendiri dan aku bergerak seperti mereka bergerak. Tubuh mereka membentuk huruf C bolak-balik seperti merek dompet mahal.

"Terus No. Enak No... ahhh uuuhhhh... " lenguh Tejo.

"Huuusssy.. jhhaa ngaan ber ri sikhhh ntiihh Mashh Rpinhh bangun..." timpal Parno

Ah mereka rupanya tak tahu kalau aku sebenarnya sudah bangun dan ikut beronani seperti mereka. Selain buku semalam dan adegan ini, aku belum pernah melihat laki-laki bersama mengumbar kenikmatan. Kalau gambar kartu remi laki dan perempuan aku pernah lihat, itu semasa aku jadi kondektur.

"Johh, kocokin aaahhh kontol kita hhh biar cepat keluar..." kata Parno.

Kali ini mereka tak membentuk huruf C saling terbalik lagi. Tejo memeluk pundak Parno dan meletakkan dagunya di sana. Sementara tangan kanannya mengocok kedua kontol itu. Matanya terpejam pejam keenakan. Aku pun berdiri tegak seakan ikut meraksakan kehangatan pelukan itu. Herannya aku suka.

"Trusshh Jooo aku hamp ... aaahhhhh..." Parno muncrat.

Tejo melepaskan kontol mereka namun masih mengocok kontol Parno tapi semakin pelan tapi mantap. Tangan Parno menepis tangan Tejo dan dia menyelesaikan kenikmatan itu sendiri. Sementara itu Tejo mengocok pelan kontolnya supaya tetap tegang tapi tak segera keluar. Tejo sabar menunggu Parno menyelesaikan hajat nikmatnya beberapa saat.

"Sekarang kamu kocokin punyaku lagi ya..." ujar Tejo saat tampak Parno akan mengambil air.

Rupanya benar semalam mereka telah saling onani. Segera tangan Parno meraih kontol Tejo menggantikan tangan Tejo. Parno berlutut di depan kontol Tejo, sangat dekat. Kukira Parno akan mengonani kontol Tejo dengan mulutnya. Ternyata tidak. Dia memandang lekat kontol yang berdenyut dan tampak kaku dan kencang itu. Sementara si empunya membiarkan dengan kepala tengadah menikmati setiap kocokan.

Kuikuti gerakan tangan Parno di kontol Tejo. Sehingga aku merasa akulah yang dionani. Kutambahkan efek suara sendiri. 'Ahh sshhhh shhhh...' jadi terasa lebih nikmatnya. Seperti lihat adegan film xxx.

Aku mengintip lagi. Kulihat Tejo memegang kepala Parno dan mendekatkan ke kontolnya. Rupanya dia minta dioral. Tapi rupanya Parno tidak mau. Dia mempertahankan kepala masih di depan kontol Tejo dan masih mengocoknya. Dia mengocok lebih cepat supaya Tejo cepat keluar.

Akupun demikian, kukocok kontolku yang telah mencapai panjang maksimal dengan cepat. Rasanya aku hampir keluar.. kurebahkan tubuh telanjangku ke atas kasur. Kubayangkan kontolku sedang menyodomi salah satu model di majalah telanjang semalam. Si model yang berotot itu merasa keenakan menikmati kontolku dalam anusnya.

Terasa enak sekali. Aku rasa maniku hampir keluar. Aku bangun lagi dan mengintip ke sumur di bawah. Belum sempat kubuka kain itu sedikit maniku muncrat. Aaaahhhh nikmat dan tubuhku berkedut kedut tak terkendali. Sebentar setelah reda, ternyata spermaku muncrat ke kain jendelaku. Ah sudah biar saja. Toh tak akan ada yang tahu. Nanti juga kering.

Saat kupandang ke bawah. Tejo dan Parno masih mandi. Langit sudah terang benderang. Kontol-kontol pemuda itu sudah lemas tapi masih tampak panjang menggantung. Tejo dan Parno menyelesaikan mandinya. Lalu mereka menutupi kemaluan mereka masing-masing dengan handuk. Sekarang Parno mencuci baju sedangkan Tejo menimba air untuk memenuhi bak.

***
(bersambung)

Tukang Kebung Gatal 1 <<<< Sebelum                                             Sesudah >>>>Kisah Tejo dan Parno 2

08 February 2007

Tukang Kebun Gatal 1

_______________
Aku seorang bujangan beruntung. Jenjang karirku di sebuah perusahaan perminyakan maju pesat. Dua bulan pertama bergabung di perusahaan ini aku telah melampaui target pemasaran yang ditetapkan manajer. Sebuah mobil Inova sekarang sudah menjadi inventarisku. Bulan kelima mobilku diganti dengan sedan Honda (aku tidak berniat menyebut jenisnya, sekarang aku masih memakainya). Tepat setahun, setelah mendapat bonus tahunan yang nilainya ada 7 angka nol.

Sebulan kemudian aku naik pangkat tetapi pindah di daerah ditambah sebuah rumah inventaris. Semula aku menolak karena aku sendirian, lebih baik kost pikirku. Tapi pimpinan tidak setuju karena tidak sesuai dengan visi perusahaan dalam menyejahterakan karyawan. Setelah sekali aku melihat rumah itu, aku langsung setuju untuk menempatinya. Rumahnya terletak di perumahan elit di kota dengan tetangga kanan kiri minimal pemilik perusahaan.
_______________


==============
Usaha selalu usaha. Kerja keras dalam arti harafiah sudah jadi nafasku. Semenjak masih balita aku sudah mencuci bajuku sendiri di kali bersama emak. Remaja sambil bersekolah SMP yang ada di balik gunung, aku harus mencari rumput dan kayu bakar untuk kebutuhan ternak dan rumah tangga. Lulus SMP aku diikutkan bu Lik yang jadi pembantu di kabupaten. Bertahan satu tahun aku kemudian ikut tetangga menjadi kondektur angkutan pedesaan.

Tak lama kemudian ada rombongan dari desa yang bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta. Aku ikut bekerja untuk berdirinya beberapa gedung pencakar langit dan mall. Bekerja di bangunan aku tidak bisa mengumpulkan hasil akhirnya aku kembali ke desa dan sempat menganggur. Sambil mencari pekerjaan lain, aku mencoba mengembangkan hobi menanam tanaman hias. Suatu ketika ada orang kota yang memborong, uang itu aku jadikan modal untuk mencari tempat berjualan tanaman hias. Selain berjualan sekarang aku menerima proyek pembuatan taman dan perawatan.
===============
_________________
Dua bulan pertama aku mulai beradaptasi dengan kesendirian. Selama tidak ada keperluan keluar bersama customer aku lebih suka di rumah mengumbar segala fantasi liarku, sendiri. Kini aku sudah biasa bertelanjang bulat di rumah. Pernah sekali ada bibi tetangga yang usil melongok lewat atap rumah tetangga. Waktu itu aku sedang berenang di kolam belakang. Tapi kemarin kabar itu telah kudengar hingga warung rokok dekat satpam sana. Dasar tukang gosip!

Bulan pertama dan kedua sempat sesekali aku bersihkan sendiri seluruh taman. Tetapi sebulan setelah musim penghujan ini aku tak sanggup lagi. Rumput liar di mana-mana. Kalau begini harus ditangani ahlinya, tukang taman. Kini mengendarai sedanku aku melambat dan berhenti di sebuah penjual tanaman. Paling tidak dia pasti tahu di mana tukang taman.
__________________



================
Selain koleksi tanaman mahalku semakin banyak dan beragam, maka bisnis perawatan taman pun berkembang. Aku punya Tejo dan Parno sebagai asistenku. Tetapi saat musim hujan begini mereka juga kewalahan memenuhi jadwal pembersihan. Terkadang aku terpaksa harus turun tangan ikut membantu. Sementara ini pembuatan taman baru aku tolak. Sebetulnya sayang, namun daripada kacau atau pelanggan tidak puas.

Sebenarnya aku sudah menelepon Pak Lik minta tolong mencari tenaga desa yang mau jadi tukang taman. Tapi para pemuda di kampung sudah sedikit, banyak yang berangkat ke Malaysia dan Brunei jadi TKI.

Sampai sekarang aku masih sendiri. Belum satu gadis pun yang aku rasa cocok denganku. Terkadang aku ditanya apakah aku suka wanita atau tidak. Tubuhku dan sifatku memang lelaki, namun belum satu wanita pun yang bisa membuat aku greng (ngaceng) gitu. Yu Jamu yang berkebaya dengan dada rendah tidak terlalu menarik minatku. Malah aku lebih senang kalau melihat Tejo dan Parno mandi bersama. Kontol mereka yang panjang membuatku greng apa lagi kalau memergoki mereka sedang saling mengonani kontol. Rasanya ingin ikut, tapi kan aku jauh lebih tua dan pimpinan mereka lagi.
==================

____________________
Aku turun dari mobil dan mulai mengamati beberapa pot bunga. Aku berjalan-jalan sambil menunggu pemiliknya muncul. Aku tertarik bunga Euphorbia yang bunganya bisa bertumpuk tumpuk. Ada juga beberapa bonsai Ficus yang mirip wanita tidur.

"Bisa dibantu pak?" tanya suara di belakangku.

Ahh pemilik toko tanaman ini mungkin. Wajahnya langsung menarik perhatianku, ketampanan khas pemuda desa. Mungkin seumuran denganku atau lebih tua sedikit. Mengenakan celana pendek hitam dengan kaus yang sudah digunting tangannya. Bisepnya terbentuk baik mungkin sering latihan angkat beban juga.

"Oh ya, saya butuh tukang taman untuk merawat taman rumah, apa mas tahu?" tanyaku

"Ada pak. Saya biasa merawat taman di perumahan elit." katanya langsung berpromosi.

Ah senyumnya manis ada lesung pipit di wajah jantan itu. Kulitnya kecoklatan terbakar matahari. Dan, yaa dadanya mengkilat karena keringat. Tampaknya dia sedang bekerja cukup keras dan menguarkan ah .. bau keringat pria. Aku suka.
__________________

================
Ah itu dia tampaknya pelanggan pertama hari ini datang. Seorang pria dengan kaus ketat dan kacamata hitam. Celananya jins warna terang. Pria yang bersih dan berbau harum saat kudekati.

"Apa ada yang bisa saya bantu pak?" tanyaku.

Dari balik kacamata hitam tampaknya pria itu mengamatiku. Aku suka badan pria ini. Dia kekar, bersih dan terang. Tampak dia orang kantoran berduit padahal masih muda. Ah, beruntungnya dia.

"Saya butuh tukang taman, apa ada?" katanya berbalik tanya.

Ah sewaktu berbicara pun nafasnnya harum.

Lalu dia kuajak ke gubuk tempat aku tinggal untuk merundingkan tentang waktu dan biaya. Aku jadi ingin menangani proyek ini sendiri. Entah kenapa aku agak tertarik dengan pria ini. Mungkin aku tertarik dengan kesuksesannya. Aku ingin seperti dia.
==============
________________
Masuk ke gubuknya yang sempit. Ruang tamu merangkap ruang resepsionis dan ruang pelayanan pelanggan. Kubuka kacamata hitamku. Ruangan dibuat seadanya. Bahkan sebelum aku duduk, si pemilik toko tanaman sempat merapikan sarung dan beberapa celana dalam kotor yang bertebaran di sana sini. Dia tampak malu dan sungkan.

Akhirnya kami berbincang duduk berhadapan. Tampaknya dia memang seorang profesional di bidang pertamanan. Dengan beberapa referensi pengerjaan yang ditunjukkan dan juga biaya yang tidak terlalu mahal akhirnya aku setuju dia untuk mengerjakan tamanku. Kami menentukan hari pada waktu ada hari libur kejepit. Karena menurutnya minimal dia perlu waktu 2 sampai 3 hari untuk mengerjakan tamanku yang cukup luas itu. Aku minta dia langsung yang mengerjakan, jangan orang lain. Aku tidak mau hasilnya melenceng dari yang dipromosikan. Aku tidak ingin repot mencari tukang taman dua bulan sekali.

Ripin (nama aslinya Arifin) dan aku bertukar nomor hape untuk mempermudah komunikasi berikutnya. Akupun permisi pulang. Tapi tiba-tiba sebelum berpisah keinginan untuk memegang beberapa bagian berotot milik Ripin tak dapat kutahan.

"Oh ya Pin, sekalian aku dibawakan Euphorbia merah di sana itu. Pilihkan yang bagus ya" sambil menunjuk tangan kananku memegang pundaknya dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Tapi aku tak mau berlama-lama karena kontolku tiba-tiba langsung mengeras minta diremas.
________________

==============
Di dalam rumah kujelaskan segala sesuatu tentang perawatan tanaman dan biaya yang dibutuhkan. Banyak yang dia tidak mengerti tentang taman. Mungkin dia orang kaya baru. Tetapi karena aku suka orang ini aku tidak mau memberi harga yang terlalu mahal. Harga yang kuberikan malahan 75% dari harga standar perawatan. Dan yang aku senang dia setuju. Hatiku teriak 'hore!' sewaktu dia dan aku sepakat tentang waktu.

Satu lagi yang membuatku senang, Pak Robby-nama pelanggan itu, orangnya bersahabat dan tidak angkuh seperti penampilan awalnya. Aku senang merasakan hangat dan wangi tubuhnya yang berotot. Ingin rasa memeluk tapi sepertinya kurang sopan. Jadi kutahan. Lagian Pak Robby hanya memeluk sebentar untuk menunjukkan bunga yang diinginkan.
===============

_________________
Sekitar jam 8 malam hari minggu itu. Seperti biasa aku online untuk membalas beberapa email dan mengecek friendster. Plus seluncur di beberapa situs-situs gambar pria telanjang. Situs favorit adalah situs yang menampilkan pria-pria sexy yang berotot. Tut...tutut (tidak menggunakan 'i'), sms masuk. Kulihat nama di paling atas RIPIN KEBUN.
_________________

===============
Tadi sore menjelang maghrib saat hari masih cukup terang, Tejo dan Parno mandi bersama lagi. Kamar mandi kami ada di bagian belakang rumah, bersebelahan dengan sumur sumber air untuk menyiram.Atapnya terbuka dan segala tampak jelas dari jendela kamarku di lantai atas.Mereka sekarang sudah lebih berani. Bukan sekedar saling ngocok lagi. Kali ini Tejo sudah ditusuk oleh si Parno. Terasa deg degan menyaksikan adegan mereka. Mungkin tiap malam mereka melakukan persenggamaan sehingga mereka lebih maju dalam ilmu seks.

Ada keraguan tersendiri. Ingin menegur mereka karena yang mereka lakukan itu tidak wajar. Tapi jauh di lubuk hati aku tidak mau munafik karena aku menikmati yang mereka lakukan. Aku suka dan tidak ingin mereka berhenti melakukannya. Hampir dua jam aku risau dan ingin berkonsultasi dengan seseorang yang cukup pintar tapi tidak terlalu dekat.

Ah, kenapa tidak kucoba menelepon Pak Robby saja? Mungkin dia punya saran tentang hal ini. Tapi bagaimana memulainya ya? Sepertinya terlalu panjang untuk dijelaskan melalui telepon , pasti banyak pulsa. Lebih baik aku sms saja.

PAKABAR P ROBBY? INI RIPIN. SY MO BRTAHU KLO BUNGA BP SUDAH SAYA PISAH SENDIRI. DAN SKRG SY ADA MSLH. BLH TDK KLO MINTA BANTUAN?

Dalam beberapa menit smsku sudah dibalas:
BANTU APA? PERLU UANG MUKA ATAU UNTUK BUNGA?

Lalu kubalas lagi:
BUKAN ITU! SY MHN INI BP SAJA YG TAHU. BGMANA CARA MENEGUR BAWAHAN YANG SALAH SPY MRK TDK TERSINGGUNG BERAT?

Pak Robby lalu membalas:
OO.. ITU. GAMPANG! BICARA 4 MATA. KATAKAN KESALAHAN, BILANG KALAU KM TDK SUKA. BILANG SPY MEREKA TIDAK ULANGI.

Pak Robby belum memberi penyelesaian:
BKN BEGITU PAK. MRK SALAH TAPI SY SUKA KESALAHAN ITU. SY BINGUNG.
===============

_________________
Rupanya sms Ripin yang membahas masalah manajemen. Setelah beberapa kali kubalas, aku jadi tambah bingung dengan maksudnya. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon membantunya. Mungkin dia tidak punya banyak pulsa untuk menelepon, aku harus maklum.

"Bagaimana Pin, kok malah jadi bingung" kutanya Ripin di ujung telepon.

"Begini Pak. Ah, saya harap Bapak menyimpan rahasia ini ya.. "

"Oke. Langsung ke masalahnya saja Pin." kataku memotong.

"Anak buah saya kumpul kebo, ah bukan, kumpul apa sih namanya kalau laki sama laki.."

"Ha.. maksudmu anak buahmu melakukan praktek homoseks, begitu?"

"Nah itu pak. Apa .. homo apa?"

Ripin menjelaskan kejadian tadi sore cukup rinci (BACA: Cerita Ripin). Ini membuatku tambah tertarik. Penjelasan Ripin seperti gambaran cerita seru yang suka kubaca di blog salah satu teman friendsterku.

"Kok kamu tahu semua itu Pin?"

"Saya kebetulan di depan jendela kamar saya. Dari jendela itu nampak semua yang terjadi di sumur itu." jelas Ripin.

"Dan .. kamu suka?" tanyaku teringat sms terakhirnya.

"Emmm..."

"Suka kan?" desakku

"Sejujurnya iya. Tetapi..."

"Oke. Begini kalau kamu suka, lebih baik jadikan itu rahasia perusahaan kamu saja. Ingatkan mereka kalau sudah keterlaluan atau mengganggu kinerja perusahaan. Jadi selama mereka masih menjaga semangat kerja dan itu menjadi semangat mereka, biarkan saja. Yang penting tidak merugikan perusahaan." saranku.

Ripin mengerti dan tampaknya dia menerima pandanganku. Dia mengucap terimakasih dan menutup teleponnya.

Setelah kututup telepon aku baru sadar kalau kemungkinan besar si Ripin juga homo. Mana ada orang straigth yang suka melihat adegan homo? Tetapi bisa juga si Ripin itu biseks dan suka melihat adegan itu sebagai pelampiasan kesepian dari istrinya.
_________________

===============
Tak kusangka nasehat dari Pak Robby mampu melegakan pikiranku sedikit. Aku jadi sadar kalau selama ini aku terkungkung dengan kekunoan. Di jaman ini semua orang maju berpikir terbuka terhadap segala sesuatu. Bahkan terhadap yang tabu dan yang dulu tak mungkin. Itulah mungkin kunci kemajuan orang-orang berduit sekarang.

Dulu sewaktu masih jadi kondektur tak terbayang menerima bayaran sampai lebih dari satu juta seperti sekarang. Namun dengan pikiran terbuka, sekarang bagiku omset sampai sepuluh juta per bulan sudah biasa. Untuk membayar Parno dan Tejo saja sejuta. Tak ada yang tak mungkin kalau kita berpikir maju dan terbuka.

Malam itu aku putuskan untuk tidak melarang Tejo dan Parno melakukan aktifitas pribadi mereka. Tetapi kuputuskan juga untuk menegor mereka supaya tidak terlalu sembarangan dengan melakukan di mana-mana seperti orang gila.
===============

(Bersambung)