Showing posts with label nasib. Show all posts
Showing posts with label nasib. Show all posts

06 January 2011

TUKANG TAMBAL BAN MACHO DAN BIRAHI 3

DIA PERNAH DENGANNYA


"Al ini nama dan tempat untuk kamu melamar. Siapkan semua dengan benar. Nanti kalau sudah biar aku yang antarkan surat lamaran kamu" ujar Aan.

Aldi, ponakan Jono, menerima kertas itu dengan berseri. Sudah hampir sebulan dia tinggal di gubug Jono. Dia pikir mudah mencari pekerjaan di antara ribuan kantor Jakarta. Aldi telah bertemu Aan beberapa kali. Aan yang menginformasikan kalau TU di kampusnya membutuhkan staf yang bisa mengoperasikan komputer untuk entri data.

"Mas Aan, terimakasih loh sudah membantu ponakan saya" ujar Jono sewaktu Aan mengambil berkas lamaran yang sudah disiapkan.

"Sama-sama mas. Kan kita harus saling membantu" ujar Aan tersenyum penuh arti.

Singkat cerita Aldi mendapat panggilan wawancara dan diterima bekerja di kampus tempat Aan kuliah. Sebagai pegawai baru dan juga high quality jomblo, nama Aldi segera meroket ke seantero kampus. Tidak hanya cewek-cewek yang memperbincangkan pegawai TU baru tapi juga para mahom (mahasiswa hombreng). Banyak yang pura-pura nanya ke TU hanya untuk melihat tampang Aldi. Aldi sendiri tidak menyadari semua hingga Aan memberitahukannya.

"Masa sih mas sampai sebegitunya?" Aldi bertanya tidak percaya.

"Iya Mas. Aldi kan hanya cowok desa begitu..." Jono juga ikut tidak percaya.

"Bener Mas" kata Aan sambil memandang Jono.

Lalu Aan melanjutkan.

"Malah ni mas, ada seorang cewek yang jadi model tuh meminta saya agar saya membujuk Aldi agar melamar sebagai model di tempatnya. Kamu mau, Al?"

Aldi hanya tersenyum.

"Mau nggak Al? Jangan cuma senyam-senyum begitu"

"Walah Mas Aan ini bercandanya keterlaluan. Tampang pas-pasan begini kok jadi model."

"Kalau kamu ga percaya, begini saja. Sabtu nanti kamu kuantar ke tempat manajemen temanku
itu"

Jono memandang ponakannya yang dianggapnya sangat beruntung. Mengapa aku tidak seberuntung dia? Namun kebahagiaannya juga kalau bisa mengantarkan ponakannya hingga ke jenjang lebih tinggi dalam kesuksesan.

"Ya sudah nanti sabtu berangkat saja sama mas Aan" Jono ikut mendorong.

***

"Menurut Pak Lik, apa iya saya ini pantas kalau jadi model?"

"Yaaa kamu cukup ngganteng sih" Jono tidak bisa memberi pujian lebih dari 'lumayan'.

Jono sendiri tidak paham dengan kriteria ganteng. Di wajahnya sama sekali tidak terkesan bule. Hidungnya juga tidak mancung. Aan pernah mengatakan kalau wajahnya khas pria Indonesia yang tampan. Orijinal, katanya. Memangnya spare part sehingga di sebut orijinal. Nanti jangan jangan ada wajah KW 1 dan KW 2 lagi... Tapi memang Aldi enak dipandang. Ah ya, dia ingat pernah mengandaikan jika di Jakarta mungkin Aldi jadi artis. Mungkin yang kuasa mendengar doa baiknya.

Sabtu sore itu juga, Aldi pulang dengan wajah berseri.

"Pak Lik. Kabar gembira...."

Jono yang sedang membersihkan mesin motor pada cairan minyak tanah yang sudah menghitam mendongak sebentar.

"Apa? Main film ya...?" ujar Jono ikut senang.

"Yeee Pak Lik. Belum lah..."

"Lah terus apa?"

"Aku akan ikut sesi foto ke Ujunggenteng minggu depan"

"Hah, foto seksi? sama cewek?" Jono kini memperhatikan Aan yang tersenyum-senyum.

"Bukan foto seksi, Pak lik. Ini mau foto-foto dan aku dibayar. Aku jadi model"

"O begitu. Pak Lik kira mau jadi model bokep begitu" Jono tertawa

Aldi dan Aan ikut tertawa. Lalu secara bersama,

"Dasar Omes!"

"Apa?" Jono melihat Aldi dan Aan

"OTAK MESUM!!" teriak mereka seperti anak kembar sambil menunjuk Jono.

Mereka tertawa bersama. Meriah dan akrab sekali suasana bengkel Jono sore itu.

"Mas, aku mau ajak Aldi nginap di kosku. Boleh kan?"

Sejenak Jono merasa bimbang. Aan mungkin akan mengajarinya jadi... ah tidak! Tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain. Bukankah selama ini Aan sudah baik membantu mereka. Bukan dalam hal materi, namun persahabatan yang tulus.

"Ya sudah sana. Tapi titip Aldi ya Mas, dia masih polos. Jangan diajari nakal" kata Jono.

"Sebentar ya Mas Aan. Aldi mau mandi dulu"

Aldi segera berlalu menuju ke pemandian UMUM yang tak jauh dari gubug Jono. Percakapan berlanjut sesudah Aldi cukup jauh.

"Benar loh mas. Saya ndak mau ponakan saya itu rusak. Maaf loh mas, bukan maksud saya buat menuduh Mas" Jono menarik nafas cukup panjang.

"Saya mengerti, Mas. Hmm kayaknya sudah sayang beneran ya..."

"Ya dari dulu juga sayang, Mas. Namanya juga sama ponakan sendiri"

"Hmmm tiap malam tidur bareng... apa...?"

"Duh Mas Aan ngomong apa sih? Ya nggak lah mas..." Jono mengerti arah pembicaraan Aan.

Aan tidak melanjutkan topik pilihannya. Dia tahu Jono tidak suka membicarakan ini. Akhirnya dia memilih menceritakan proses casting yang tadi dilakukan Aldi di manajemen. Dan sedikit topik bengkel sampai Aldi datang.

"Maaf mas, agak lama. Antri tadi"

"Pak lik saya tinggal dulu ya..."

Senang rasanya Aldi bisa bersosialisasi dan menemukan teman di Jakarta.
***

Minggu ini jadwal ML dengan cowok.

Begitu Aan menulis status fbnya yang bernama Mitchel XXX. Nama samaran tentunya. Ya, Aan berhasil membujuk Aldi menginap di kosnya.

"Masuk Al" Aan selalu memanggil 'Al' dan bukan 'Di' seperti Jono.

Dari sorot matanya Aldi terlihat kagum dengan kos Aan yang bersih rapi dan sejuk. Jauh berbeda dengan gubug Jono yang panas dan ada sarang laba-laba di sudut.

"Aku mau mandi dulu. Kamu mau baca majalah atau nonton?"

Aldi suka baca tapi dia juga ingin menonton.

"Ya sudah kalau mau baca ini majalah politik dan yang di sana ada beberapa film biografi"

Aan berlalu masuk ke kamar mandi yang ada di kamar itu.

Aldi memilih menonton biografi saja. Dia memilih DVD tentang Soekarno. Namun saat menyalakan DVD player ada keping cakram yang masih ada di dalam. Langsung saja termainkan adegan-adegan syur yang membuat Aldi tercekat dan tak bergerak. Gamang antara mematikan dan ingin meneruskan melihat tayangan itu. Rupanya Aan lupa mengeluarkan cakram XXX-nya.

Adegan demi adegan membuat Aldi gemetar. Tegang. Tidak hanya badannya tapi juga kontolnya. Adegan demi adegan menerobos otaknya. Pernah sih sekali dia melihat adegan seperti ini di hape teman tapi tidak selebar dan sejelas ini. Tubuh-tubuh telanjang pemain bokep tampak lebih nyata di depan matanya. Lebih jelas dan lebih indah. Sebuah keindahan yang terlarang untuk ditonton oleh agama, oleh keluarga, oleh masyarakat dan oleh negara.

Suara shower dari kamar mandi berhenti. Aan keluar dan melihat TV yang menyala. Deg! Dia teringat tentang dvd bokep teman yang belum dia keluarkan. Tapi ternyata tayangan yang ada tentang Soekarno.

"Al, kamu tadi nonton yang ini?" Aan memungut keping cakram bokepnya.

Aan menggeleng ragu... bukan niat hati berbohong tapi dia takut. Tapi keraguannya mengatakan jelas kepada Aan kalau dia telah menonton sebagian. Melihat Aan memakai handuk Aldi jadi ingat jelas kepada Jono waktu itu. Kontolnya jadi menegang lagi.

"Kalau iya kenapa mas..." sejenak Aldi kaget dengan tantangan yang meluncur dari mulutnya.

Sebagai pria pemberani yang ditempa organisasi dan demo, Aan jadi tambah berani kalau ditantang begini. Jiwanya jadi terbakar dan ingin mengalahkan. Bagi Aldi dia senang Aan mendekat dan tampak menginginkan seperti yang ada di tayangan tadi.

Tubuh Aan tampak putih dan bersih. Tidak terlalu berotot tapi kencang. Tonjolan di balik handuknya juga tampak besar. Dadanya berisi dan segar. Konsentrasi Aldi sudah hilang sama sekali terhadap tontonan dan kedudukan. Nafsunya naik drastis menenggelamkan otaknya.

Dia menyentuh dada Aan saat tubuh telanjang Aan cukup dekat. Dada Aan terasa kencang dan kenyal begitu menggoda. Tubuh Aan begitu putih dan bersih. Segar dan padat.

"Ehem...!!" Aan berdehem cukup keras

Aldi kaget dan menarik tangannya kembali.

"Hei! Kamu tu laki-laki dan aku juga laki-laki ..."

Langsung dia teringat nasihat paklik Jono. Seakan itu diucapkan oleh pakliknya melalui mulut Aan. Aldi menundukkan wajah. Namun dia jadi teringat juga saat mengamati tonjolan dan perut pakliknya itu.

Sementara dalam pikiran Aan juga bergolak antara keinginan menikmati Aldi dan nasehat Jono si Tukang tambal ban. Dia sendiri sudah berjanji untuk membimbing Aldi dan menjagainya. Wajah Aldi cukup tampan dengan bulu mata yang melengkung ke atas. Manis tapi jantan. Badannya tidak sebagus Jono tapi lebih tinggi. Kalau tegapnya sama.

Tidak! Aan ingat janjinya pada Jono. '...Saya ndak mau ponakan saya itu rusak...' begitu terngiang permintaan Jono padanya. Kalau mengajari jadi gay... hmmm tidak.... aku tidak mengajari, bukankah Aldi memang sudah cinta kepada Jono. Jadi kemungkinan Aldi memang gay. Aku tidak merusaknya.

Aan menyimpan DVD bokepnya lalu berpakaian kaus dan celana pendek. Mata Aldi terus mengawasi Aan yang berganti pakaian. Aan pun tahu itu.

"Al, bukankah kamu cinta pada Paklikmu itu?"

Aldi terhenyak dan tidak menyangka kalau Aan tau jauh.

"Tahu darimana mas?"

"Mas Jono sudah cerita jauh sebelum kamu ke Jakarta"

Aldi menghela nafas panjang. Dia merasa tidak perlu ada yang ditutupi lagi di depan Aan.

"Aku juga heran, mas.. kalau dengan teman lain aku nda pernah punya nafsu begitu. Tapi sama pak lik aku suka saja. Aku jadi kangen kalau lama nda bertemu. Apa benar ini yang namanya cinta ya mas...?"

Aldi seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Apa mungkin aku ini nda normal. Apa aku sudah gila ya?"

"Aldi, setiap manusia punya latar belakang yang berwarna. Nafsunya pun berbeda. Ada manusia yang suka makan daging ada yang vegetarian. Ada yang suka durian tapi banyak pula yang benci. Apa ada yang salah dengan rasa suka dan selera? Bukankah orang Indonesia tidak akan kenyang walaupun sudah makan sepiring kentang? Seleranya adalah nasi. Apa berarti orang Eropa adalah gila dan tidak normal?" Aan membalas pemikiran Aldi.

Aan melanjutkan dengan duduk di sebelah Aldi.

"Menurutku kita semua harusnya punya pikiran terbuka tentang ini. Tidak seperti katak dalam tempurung dengan membatasi diri dengan pemikiran tradisional yang dikungkung. Seorang laki-laki yang berselera kepada laki-laki adalah sama seperti seorang laki-laki berselera kepada perempuan. Semuanya adalah selera. Nafsu manusia yang berlaku universal. Apapun agamamu, apapun golonganmu, apapun warna kulit, bangsa, pandangan politik, bahkan suku dan bangsamu.."

Serasa Aan sedang berpidato seperti Cev Guevara dan Marthin Luther King Jr saja.

Aldi hanya mengangguk-angguk kagum. Dia berpikir bahwa dia sedang berhadapan dengan titisan Soekarno. Tapi dia tersadar bukannya menentang kisah cinta laki-laki dengan laki-laki tetapi pidato Aan tadi adalah mendukung.

"Loh, jadi mas juga suka dan berselera dengan laki-laki?"

Aan tersenyum bukan karena Aldi terpancing. Aan tersenyum karena ternyata buah pemikiran yang disajikan dalam kalimat-kalimat yang berurut bisa diterima orang sesederhana Aldi. Dia terbangkit semangatnya dan ini mungkin salah satu kemenangan dalam mentransfer pemikiran.

"Mas juga cinta sama Pak lik Jono ya..."

Secepat itu kecemburuan Aldi terbangkit.

"Tidak... aku dan mas Jono cuma berteman saja..."

Air muka Aldi berubah jadi biasa lagi.

"Aku pernah dikocokin sama Pak Lik Jono. Nikmat banget mas.." Aldi membuka topik selanjutnya.

"Aku juga pernah..."

"Heh! jadi..."

"Gak. gak lebih dari itu kok..." ujar Aan takut Aldi cemburu lagi.

Lalu Aan dan Aldi bercerita tentang pengalaman mereka dengan Jono tukang tambal Ban itu. Sebuah cerita yang membuat keduanya jadi horny berat.

"Duh cerita begini membuatku tegang. Kamu tegang gak..."

Tangan Aan langsung saja menyentuh selakangan Aldi dan menemukan ternyata Aldi juga horny. Aldi tidak bergerak atau menolak kontolnya diremas-remas begitu. Aan jadi memandang Aldi. Aldi pun memandang Aan dengan pandangan yang kita semua mengerti... berselera.

16 December 2010

TUKANG TAMBAL BAN MACHO DAN BIRAHI 2

SURAT DARI PONAKAN

Jono memegang amplop putih titipan dari kampung.

Kepada YTH: Pak Lik Jono

begitu dibagian sampul depan. Sedangkan di sampul belakang tertulis 'Dari ponakan tersayang'.

Jono tersenyum membaca 'ponakan tersayang'

Jono membuka dan mulai membaca surat itu.

Dengan hormat,

Apa kabar pak lik di sana? Semoga sehat dan baik-baik saja dalam lindungan yang maha kuasa.
Saya di sini dan semua keluarga baik-baik saja.

Saya sangat kangen sama pak lik. Saya ingin ketemu lagi seperti lebaran lalu. Tidur sama
pak lik, mandi bareng, mancing, dan semuanya. Kapan pak lik pulang lagi?

Tiap mau tidur saya selalu teringat sama pak lik. Saya pengen melakukan seperti yang kemarin
lagi. Air mata saya sampai menetes karena rindu ini. Saya sangat sayang sama pak lik. Saya
cinta sama pak lik. Semoga pak lik juga cinta saya.

Ibu dan bapak titip salam. Saya doakan pak lik tambah jadi orang di Jakarta.

Salam hormat,

Aldi


Lalu Jono melipat dan memasukkan surat itu kembali ke dalam amplopnya. Dia hanya tersenyum-senyum. Ada-ada saja pikirnya. Mau tidak mau ingatannya melayang pada lebaran lalu. Hari raya besar yang dia lewati hari harinya bersama Aldi.

Dulu sewaktu dia meninggalkan kampung untuk merantau ke Jakarta, Aldi masih kecil sunat saja belum. Dia baru akrab lagi setelah dia menganggur karena PHK masal dari outsourcing. Waktu itu dia hampir saja jadi supervisor cleaning servis di sebuah mal. Kalau saja perusahaan tidak bermain kotor tentu mereka masih tetap bekerja.

Masa menganggur diisi dengan membantu bapaknya yang menanam Jagung. Kegiatan lain adalah bermain bersama Aldi yang saat itu sedang mengambil kursus komputer di kota dekat tempat tinggal mereka. Aldi lebih beruntung karena bisa menamatkan SMA dan mengambil kursus komputer. Sekarang dia bisa bekerja di staf waralaba yang ada di dekat kampung. Beda nasib dengan Jono yang harus banting tulang jadi tukang tambal ban.

Aldi sudah jadi pemuda yang ganteng dan gagah. Mungkin kalau di Jakarta sudah bisa jadi model karena badannya juga tegap. Dulu pernah disarankan untuk mendaftar jadi tentara selepas SMP namun dia merasa tidak berminat. Tentara itu kasar-kasar, begitu katanya.

"Pak Lik tu badannya bagus juga ya..." itu komentar Aldi

Waktu itu Jono habis mandi dan hanya memakai handuk. Dia berniat mengambil pakaian di tas ranselnya. Dia berhenti dan melirik ke Aldi yang tiduran sambil membaca majalah komputer. Jono jadi berdiri lagi lalu menekuk tangan ke atas memamerkan kedua bisepnya. Dadanya dibusungkan perutnya dikecilkan. Adi meletakkan majalah dan menonton peragaan binaraga gratisan di depannya. Tiba-tiba handuk Jono melorot dengan cepat. Aldi tertawa ngakak terpingkal-pingkal keras sekali.

"Ada apa sih?" Mas Warno melongokkan kepala ke dalam.

Untung saja Jono cepat kembali mengenakan handuknya.

"Itu mas. Aku hampir jatuh malah diketawain anakmu..."

Aldi tertawa sampai keluar air mata waktu itu.

"ALDI!!" Mas Warno membelalak pada Aldi. Aldi berusaha diam namun tawanya kembali berderai setelah bapaknya berlalu.

Namun itulah awal semua ini. Semenjak itu bayangan Pak Liknya yang telanjang sering sekali mengunjungi Jono. Setiap itu terjadi selalu dibarengi kontolnya mengeras. Aldi sendiri tidak mengerti kenapa hal ini terjadi. Bukankah pak lik adalah adik kandung bapaknya. Bukankah pak lik juga laki-laki sepertinya. Bagi Aldi semenjak kecil sudah biasa mandi bareng telanjang laki-laki dengan laki-laki. Kontolnya tidak mengeras. Namun kenapa kalau pak lik yang  telanjang kontolnya jadi mengeras.

Aldi semakin hapal jadwal mandi pak lik Jono. Dan setiap waktu itu dia sempatkan untuk  berada di kamarnya, berharap ada tontonan binaraga gratis lagi. Namun tentu saja tidak terjadi.

Hari demi hari Aldi jadi tambah geregetan ingin melihat pak liknya telanjang lagi. Suatu sore pak liknya masuk kamar dan Aldi menyentakkan handuk yang dipakai Jono. Tentu saja reflek Jono menahannya.

"HEH! Kurang ajar ya kamu...." Jono berbalik memasang tampang marah.

Aldi kaget dengan reaksi itu. Dia hanya bisa cengengesan saja.

"Duduk sana. Aku mau bicara sama kamu" suaranya tegas dipelankan.

Tangan Jono menunjuk tempat tidur. Aldi dengan menunduk takut duduk di tepi tempat tidurnya. Jono menyusul dibelakangnya sambil tetap memakai handuknya. Lalu duduk di sebelah Aldi.

"Di, kamu tu ndak boleh saru begitu. Ndak sopan, tahu!"

"Iya, maaf pak lik"

Aldi tetap menunduk tapi arah matanya menuju ke selakangan pak liknya. Juga ke perut Jono yang berkotak-kotak. Aldi mencari sesuatu. Sesuatu yang menarik yang membuatnya selalu tegang kalau membayangkan. Sementara itu Jono terus menasehati Aldi dengan itu ini. Namun semua nasehat itu menguap tanpa satupun yang terserap di otaknya.

"Kamu ngerti ya apa yang pak lik maksudkan" ujar Jono mengakhiri kutbah pendeknya.

"I Iya Pak lik" Aldi mengiyakan saja tanpa mengerti apa yang diiyakan itu.

Esok harinya setelah peristiwa itu Jono berangkat ke Jakarta. Ada teman outsourcing yang mengabari kalau butuh tenaga untuk bengkel di tempat saudaranya. Jono memutuskan sekali lagi mengadu nasib ke Jakarta. Harapannya agar lebih beruntung dari kemarin. Sekarang kerja bengkel, lalu punya bengkel sendiri, kalau bisa bengkel mobil. Begitu cita-citanya.

Semenjak itu Jono tidak bertemu lagi dengan Aldi karena sama-sama mengejar cita-cita. Hingga lebaran tahun lalu saat Jono berlebaran di rumah. Kembali dia harus tidur dengan Aldi. Ya karena Aldi merangkap kamar tamu.

Saat tidur malam tiba hanya Aldi dan Jono di kasur itu saja. Aldi tiba-tiba memeluk pakliknya. Jono membiarkan, namun terdengar sesenggukan dari Aldi.

"Di, kamu nangis?"

"Sejak pak lik pergi entah mengapa hidup Aldi jadi sepiii sekali. Aldi merasa kangen sama paklik. Sekarang paklik sudah di sini. Aldi tidak mau pak lik pergi lagi" ungkap Aldi kalimat demi kalimat disertai jeda yang cukup panjang.

Jono mengelus rambut keponakan yang beranjak dewasa. Tangisan Aldi mereda namun hidungnya ditempelkan di pipi Jono sekarang. Jono tidak mau membuat Aldi menangis lagi dan dia membiarkan saja.

"Pak Lik jadi pacar saya ya..." 
 Jono kaget.

"Ah, kamu ngelantur... kamu mengigau ya..."

Tapi tentu saja tidak mengigau karena Aldi belum tidur. Aldi serius di dalam hatinya tidak mau berbagi hati pak liknya dengan yang lain.

"Kalau laki-laki pacarnya ya perempuan. Memangnya pak likmu ini perempuan?"

Aldi hanya diam saja. Dia tahu itu salah tapi mau apa lagi dia merasa lebih lega bisa mengungkapkan perasaannya itu. Namun sejauh percakapan ini Jono tidak melawan dan menolak dipeluk dan dicium. Bahkan saat Jono sadar kalau Aldi adalah laki-laki. Lebih menyenangkan lagi Pak Liknya juga mengelusi rambutnya. Rasanya damai sekali.

Tangan Aldi nakal turun ke selakangan Jono. Entah kenapa kontol Jono jadi berdiri. 

"Jangan di..." kata Jono sambil menyingkirkan tangan Jono dari kontolnya.

Aldi memegang tangan Jono dan meletakkan di kontolnya yang juga tegang. Jono merasa kaget juga karena kontol Aldi besar juga. Dia jadi sadar kalau Aldi bukan ponakannya yang belum sunat tetapi sudah menjadi laki-laki dewasa. Jono kini lebih paham kalau keponakannya ini juga merindukan kepuasan ragawi yang mungkin tidak diajarkan oleh bapak manapun.

"Gede juga kontol kamu, Di" ujar Jono.

Lalu Jono meremas-remas kontol Aldi. Badan Aldi bergetar merasakan kenikmatan diremas-remas tangan pak liknya. Aldi mengetatkan pelukannya dan dia menggesek-gesekkan hidungnya di jambang paklik yang disayangi. Jono hanya membiarkan sejauh Aldi tidak jadi kurang ajar padanya. Tidak ada rasa birahi waktu itu, hanya ada rasa sayang dan ingin membuat keponakannya merasakan keindahan seks seperti yang dia pernah rasa.

"Terusss pak lik..."

Aldi secara reflek menggerakkan pantatnya maju mundur. Gerakan reflek ingin kontolnya merasa dipuaskan. Lalu Aldi memelorotkan celananya dan Jono kini menggenggam kontol Aldi yang sudah tegang penuh, keras bagai tongkat kayu.

Jono mengocok kontol Aldi maju mundur. Aldi tidak tahan dan pantatnya bergerak lagi. Kocokan Jono jadi kacau karena gerakan itu. Meskipun lengannya juga terasa pegal namun dia tetap membantu Aldi hingga mencapai puncak.

Tiba-tiba dengan gerak cepat Aldi berbaring lurus. Disingkapkan kausnya ke atas.

"Lebih cepat pak lik..." ujar Aldi meminta.

Jono menuruti mengocok kontol Aldi dengan cepat. Tak lama kemudian badan Aldi mengejang kaku dari kepala kontolnya menyembur mani kental yang banyak ke dada dan perutnya.

"Mmmmmmhhh...."

Jono lalu memperlambat kocokan untuk membersihkan sisa mani di dalam kantung zakar yang belum keluar. Nafasa Aldi yang ngos-ngosan perlahan kembali teratur. Jono berdiri dan mengambil pakaian kotor yang besok akan dicuci.

"Nih Di. Dibersihkan pejuhmu..."

Aldi mengelap semua hingga bersih.

Malam itu maunya Aldi tidur memeluk paklik sambil telanjang. Tapi Jono membetulkan pakaiannya setelah Aldi terlelap. Aldi merasa bahagia walaupun tidak berhasil menjadi pacar Jono. Tapi dia merasa malam itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasa sayang dari pakliknya. Sebuah rasa sayang yang lama dia rindukan.

Semenjak malam itu, malam malam berikut selama masa lebaran adalah masa yang membahagiakan buat Aldi. Dia merasa seperti di sorga dunia walau tanpa kepuasan seksual. Baginya dipeluk dan dielus rambutnya oleh paklik Jono adalah keindahan hidup. Rasanya tak ingin berpisah selamanya.

Kepada YTH: Pak Lik Jono

Dengan hormat,

Saya sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk menyusul Pak Lik ke Jakarta. Saya mau cari
kerja di Jakarta. Bapak dan Ibu sudah merestui. Selama saya di Jakarta, sudi kiranya kalau
saya tinggal bersama Pak Lik.

Ponakan kesayangan Pak Lik,
Aldi

Sebuah surat yang meresahkan bagi Jono. Kini dia juga harus menanggung hidup ponakannya yang akan tinggal bersamanya. Tidak mungkin menolak keponakannya selagi dia masih ada tempat di Jakarta meski sangat sederhana.