Showing posts with label telanjang. Show all posts
Showing posts with label telanjang. Show all posts

15 January 2010

KISAH ALFOND: Ayahku Hebat

Kisah Alfond: Ayahku Hebat (Sungguh mati aku jadi penasaran)


Baru saja aku pulang dari makan-makan bersama teman-teman SMP merayakan ulang tahunku yang ke 25. Tiba-tiba teringat satu kisah. Ini ceritaku dan terjadi sepuluh tahun yang lampau. Waktu itu aku masih bocah yang ingin tahu segalanya.

Ibuku adalah pengurus dharma wanita yang sibuk ditambah sebagai pejabat di beberapa yayasan. Ayahku adalah ayah tiri yang menikahi Ibu saat aku berumur 5 tahun. Aku memanggilnya Pa'cek. Ayahku orang yang ganteng dan berwibawa. Meskipun dengan Ibu tidak memiliki keturunan, namun beliau tidak menceraikan Ibu. Sadar diri kalau dia yang mandul. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakakku wanita semua dan pada saat itu kakakku sudah tidak tinggal di rumah. Dua orang sudah menikah sedang kakakku tepat di atas sedang kuliah di Jawa.

Menjadi anak tunggal di rumah ada enak dan tidak. Ayahku sangat sayang dan memanjakanku. Kalau dia mendapat rejeki dia selalu membelikan apa saja yang kuminta. Aku mendapat TV dan VCD di kamarku sendiri. Justru ibu kandungku yang sering protes. Memang efeknya aku jadi jarang belajar dan agak bandel. Meskipun demikian ibuku tidak bisa berkutik karena tiap semester aku selalu berada dalam 10 besar terbaik meskipun bukan yang nomer 1.

Aku sering mendapat pinjaman VCD bokep dari teman-teman SMP kadang bahkan anak SMA kenalanku.  Aku menonton di komputer di kamarku. Alasanku lebih mudah diklik dan aman. Orangtuaku jarang  di rumah.

Namun hari itu aku benar-benar ceroboh atau mungkin sial. Hari itu aku tidak  menonton bokep di komputer tetapi di VCD. Aku ingin gambar yang lebih lebar, pikirku.

"Alfond!!" tiba-tiba ayahku sudah di dalam.

Mati aku! Kok bisa masuk? Padahal... ah aku lupa mengunci pintu. Untung saja aku tidak sedang onani. Tapi tetap saja gambar orang yang sedang bersanggama tidak bisa hilang sekali klik. Mana remote entah kemana lagi... Aku panik. Aku tidak cepat menemukan remotku.

"Sudah, sudah. Kalau mau nonton ya nonton saja. Kamu kan sudah besar..."

Aku masih menduga-duga kemana keinginan Ayah. Walau Ayah sangat memanjakan dan tak pernah marah namun ini mungkin akan lain.

Ayah masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia duduk di kasurku dan ikut menonton. Ayah diam akupun diam. Terkadang aku melirik mata ayah yang seakan sedang menonton film biasa. Kucoba tenang seperti Ayah. Namun aku tetap saja tidak tenang karena ada Ayah waktu itu. Setelah beberapa lama kami dalam diam, aku merasa bosan dan makin gelisah saja.

"Fond, kamu tahu tidak, kontol Pa'cek lebih besar dari itu..." katanya dengan muka serius.

Aku memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru saja kudengar. Aktor porno yang di VCD sebesar kontolku 17 cm 4 cm. Aku sudah bangga karena di antara teman-temanku, kontolku tampak paling besar. Aku sering sombong bahwa ukuran kontol menentukan kepandaian. Tentu saja itu sangat tidak berdasar.

"Owh ya?" kataku asal saja tidak tertarik.

Aku sama sekali tidak melirik ke gundukan di selakangan. Aku lebih tertarik milik wanita. Ayah membiarkanku mengira-ngira dan tampaknya memang besar. Kontol Ayah kandungku juga pasti besar buktinya aku keturunannya. Ayah tiriku tidak ada pertalian keluarga dengan almarhum ayah. Tetapi entah bagaimana Ibu begitu beruntung selalu mendapat pria dengan kemaluan yang besar. Ah pemikiranku terlalu jauh sampai ke asal-usulku.

Waktu itu aku yakin aku normal. Aku lebih suka menonton payudara dan vagina yang memerah. Aku suka lihat lekuk tubuh perempuan. Sekarang pun begitu. Namun peristiwa berikut ini telah mengubahku. Mengubah hidupku.

Wajah Ayah tiba-tiba mendekat lalu mencium pipiku. Kurasakan pipinya yang kasar dan aroma foam bercukur yang begitu maskulin. Bukan ciuman singkat tapi lebih ke .... ah aku tidak mengerti cara untuk menggambarkannya. Dia memelukku dengan erat dengan lengan yang kekar dan bisep yang menonjol. Aku meronta minta dilepas.

Meski sewaktu kecil Ayah tiriku sering memeluk dan memangkuku namun aku tidak suka dipeluk sekarang. Aku sudah besar bukan anak kecil lagi. Pelukannya juga lain. Nafasnya mendengus dan agak memaksa. Aku meronta namun apa daya badan kekar Ayah menelikungku sehingga aku yang kurus ini tak bergerak. Ayah semakin bernafsu dia menyedot dan mengulumi bibirku. Rasanya manis terasa nikotin Ayahku di mulutku.

"Pa'cek jangan. Jangan yo..." pintaku sambil terus meronta.

Entah bagaimana aku sudah telanjang bulat. Bahkan dengan badan yang masih ditindih begitu.  Kontolku yang sedari tadi menegang karena rangsangan video bokep menjadi lemas.  Namun Ayah tidak peduli dan tetap menciumi tubuhku. Menjilati leherku. Bahkan menggigit putingku.

Aku terus meronta sampai berkeringat. Rasa takut mulai menjalariku. Rambutku basah. Matakupun terasa mulai basah. Aku merasa sangat benci dengan Ayah. Aku sangat jijik dengan ciuman-ciuman itu. Geli saja rasanya.


"Jangan ya Pa'cek...." antara takut tetapi mulai penasaran.

Ayah membuka resleting dan memelorotkan celana. Segera tampaklah kontol Ayah yang superbesar  itu. Suatu kali di lain waktu aku pernah mengukurnya, 20 cm panjang dan hampir 4,5 cm tebal nya. Aku kalah besar. Di sekitar kontolnya tampak rambut yang lebat.

"Aaahhh..." Ayahku melenguh pelan dan tersenyum tampak menikmati.

Kini badan Ayah yang kekar menindihku. Badan Ayah berotot dan perutnya sixpack. Dia memang rajin ke gym dan renang. Di perutku terasa kontolnya yang keras mengganjal digesekkan dengan keras. Aku merasa takut dengan yang Ayah akan lakukan.Tiba-tiba saja ayah mulai mengelusi  badanku. Pungggungku, dadaku, lalu pantatku. Aku tidak menyangka sama sekali kalau ayah  menginginkan menusuk aku. Duh!

Aku mengalihkan badanku menjauh dari jangkauan Ayah. Terutama anusku yang dia inginkan. Aku membalik badanku dan menutupi kontolku dan mataku. Aku merasa malu melihat Ayahku telanjang bulat begitu di depanku. Dia menciumi bibirku. Lidahnya mencoba menerobos deretan gigiku. Ludahnya terasa membasahi bibirku.  Aku merasa sesuatu yang enak tapi sama sekali tak terpikir olehku untuk merespon.

Nafas Ayah mendengus-dengus keras tanda nafsunya sudah terbakar. Dia menciumiku berkali-kali lalu berbalik menindihku. Dia memegang kedua lenganku lalu menggosok-gosokkan kontolnya ke kontolku. Entah mengapa kontolku menegang lagi. Namun tak lama Ayah merobah posisinya jadi agak berdiri. Lalu turun ke lubang kontolku.

"Pa'ceeeekk.. jangan. Tolong..." kataku meronta tapi tidak menjerit.

Terus terang tiba-tiba aku menjadi ketakutan. Aku tidak mau jadi wanita yang disanggama. Aku kan bukan wanita. Tetapi di pihak lain aku tak mampu melawan tubuh Ayah yang kekar. Tubuhku yang kerempeng begini tak sanggup melawan cengkeraman Ayah. Di sisi lain aku juga bertambah penasaran apakah nikmatnya kontol sehingga wanita di vcd itu mengerang-erang keenakan.

Aku mulai merasakan ada suatu benda keras menusuk anusku perlahan.

"Aa pa'cek jangan lakukan ...yaahhh..."

"Sudah kamu menurut saja Fond... " Ayah meludah lalu membasahi ujung kontolnya dan lubang anusku.

Ayah menusukkan kontolnya ke tubuhku kembali. Aku mengejan memaksa menutup lubangku. Namun  desakan kontol Ayah tak dapat kulawan. Benda keras itu sangat memaksa menembus masuk ke tubuhku. Tubuhku bergetar namun menjadi pasrah. Air mataku mengalir entah mengapa. Bahagia atau sedih atau kecewa aku tak mengerti. Seakan setengah nyawaku melayang dari tubuhku dan aku menjadi rileks. Bukan pingsan hanya begitu pasrah. Kurasakan ada yang mengganjal di anusku.

[Sebagian pembaca mungkin akan menanyakan mengapa aku tidak meronta dan melakukan perlawanan dengan keras. Aku sudah mencobanya dengan melarang Ayah. Namun aku yang tahu sifat Ayah dan ada sebagian peristiwa yang tak akan kuceritakan, yang membuat aku tak melawan. Tambah lagi ada rasa penasaran yang membuatku tak menyakiti Ayah. Aku tak menyesalinya. Pembaca akan tahu kalau mengikuti ceritaku]

Sementara Ayah bergerak-gerak di atas tubuhku. Kesadaranku benar-benar turun. Aku menjadi setengah sadar. Aku tak merasa apapun di sana. Sebelum tak sadar aku merasa ada gempa bumi hebat di kamarku.

"Ohh asssshhhhh..." Ayah mengkspresikan nikmatnya.

Ayah benar-benar dikuasai nafsu waktu itu. Aku menjadi sangat jijik sekaligus terpenuhi rasa dipuaskan rinduku. Aku sangat kesal dan sangat ternoda.

"Ooooaaahhhh.... " lenguh ayah dan rambut kemaluannya tepat ada di kemaluanku yang lunglai.

Aku tau kontol Ayah memasuki anusku tapi setelah beberapa waktu aku baru sadar kalau sedalam itu ayah sudah memasukiku. Ayah menciumiku lagi. Badannya yang kekar berkilat karena keringat.

Sementara di layar televisi sudah masuk adegan berikutnya. Aku kapok dan tak tertarik lagi dengan tayangan bokep itu.

Ayah mencabut kontolnya. Sesuatu yang kosong dan pegal aku rasakan di sana. Di bawah sana tepat di anusku. Pegal dan perih. Aku lihat ke sana ada darah mengalir di pahaku.

"Pa'ceeek sakit...."

Ayahku mengambil air hangat setelah mengenakan celananya. lalu dia membersihkan luka di anusku dengan penuh kasih sayang. Dia mengenakan kembali celana pendekku lalu menidurkan aku di kasurku. Persis seperti yang dia lakukan waktu aku masih kecil.

"Maafkan Pa'cek, Fond. Pa'cek khilaf!" ujarnya sambil mencium keningku. Tetes airmata yang panas jatuh di keningku.

Ayah berdiri mendekat ke televisi lalu mengambil keping vcdku. Ayah keluar kamar lalu  menutup pintu kamarku.

Aku merasa lelah dan sakit baik secara fisik maupun psikologis. Aku tertidur dan baru terbangun malam saat Ayah memberikan obat untuk diminum dan satu obat ambien yang disumpalkan  pada lubang anusku. Semua berlangsung tanpa kata-kata. Walau masih benci tapi aku tahu kalau Ayahku tidak berniat menyiksaku apalagi menyakitiku. Aku tahu ada sesal yang dalam di wajahnya.

Keesokan paginya aku tidak berangkat sekolah. Ayah sempat berdebat dengan ibuku yang mengatakan kalau aku baik-baik saja. Sedang Ayah bersikeras kalau aku sedikit demam. Akhirnya Ayah memenangkan perdebatan dan aku diijinkan tidak sekolah hari ini. Ah, apa kata dunia kalau aku sekolah dengan jalan seperti anak habis disunat? Akan banyak pertanyaan. Bisa sih aku beralasan kena bisul di pantat atau di selakangan. Ah, tetapi tidur di rumah seperti saran Ayah lebih enak dan nyaman.

Hari itu aku merasa jenuh alias bete bin sebete-betenya. Ayah pergi karena ada urusan. Keping VCD disita. TV membosankan acaranya. Tidur bosan. Di rumah sendiri, baru setelah  makan siang nanti Ayah kembali. Sedang Ibu mungkin sampai malam karena harus kunjungan keluar daerah.

Dengan langkah yang masih tertatih-tatih dan terkangkang-kangkang aku mencoba mencari  makanan di meja makan atau kulkas. Jalan ke belakang dan depan. Lalu terbersit ide mencari VCDku yang disita ayah kemarin. Aku tahu kunci kamar ayah dan ibu.

Tak perlu lama aku mencari-cari. Aku menemukan laci penyimpanan kondom. Aku mengambilnya satu. Aku ingin mencobanya. Aku mencari di kolong lalu mencoba membuka lemari pakaian. Namun tidak kutemukan VCD itu. Sekilas aku melihat ada bayangan pantulan plastik di atas lemari pakaian. Aku mengambil bangku dan menaikinya.

Ini dia!

Bukan cuma satu yang aku temukan. Sepuluh keping vcd termasuk milikku salah satu yang disita Ayah kemarin. Kuambil semua dan aku mau coba semua sebelum Ayahku kembali nanti. Segera saja adegan sanggama berbagai versi melintasi mataku masuk ke otakku. Koleksi ayah lengkap tidak hanya pria dan wanita berbagai bangsa namun juga wanita dengan wanita. Bagian lesbi selalu kulewati aku merasa jijik melihatnya. Sebaliknya bagian pria dengan pria selalu aku nikmati lebih lama. Bahkan aku terkadang mengulangnya.

Tak terasa jam-jam membosankan menjadi jam-jam menggairahkan. Lapar pun tak kurasa lagi yang ada aku menikmati rasa tegang di kontolku karena adegan-adegan di atas.

DE JAVU


"Alfond!!" tiba-tiba ayahku sudah di dalam.

Mati aku! Kok bisa masuk? Padahal... ah aku lupa mengunci pintu. Untung saja aku tidak sedang onani. Tapi tetap saja gambar orang yang sedang bersanggama tidak bisa hilang sekali klik.  Mana remote entah kemana lagi... Aku panik. Aku tidak cepat menemukan remotku.

"Sudah, sudah. Kalau mau nonton ya nonton saja. Kamu kan sudah besar..."

Ayah masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia duduk di kasurku dan ikut menonton.



Cerita berikut:

27 November 2008

Kutu Kupret

KUTU KUPRET (2008)

Aku mengenal bocah ini melalui chating di MIRC berlanjut ke Friendster lalu berlanjut lagi ke saling sms.

Sudah berkali-kali kubilang kalau dia bukan tipe yang aku suka.

LO TAU KAN KLO GW SUKA MSCLE. TP NAPA LO AJAK GW TRS? EMANG GA BOSEN DITOLAK MULU?

Smsku yang agak kasar itu cuma ditanggapi sebagai bercanda. Setelah itu kami sms dan berbla bla bla seperti biasa lagi. Anaknya emang gaul dan punya banyak pengetahuan. Apa saja dan tidak melulu tentang sex.

LO GW TOLAK GA BAKAL MARAH NEH? AKU HR RABU GA BISA TAPI MINGGU SIANG BISA.

Itulah awal bencana. Gara-gara sms itu aku terjebak untuk ketemuan. Minggu siang itu kami ketemuan di sebuah cafe waralaba yang sedang naik pendapatan (you know lah!)

Aku tak menyangka aslinya begitu tengil. Dari tampang saja sudah tengil. Senyumnya tengil. Apalagi kalau tertawa. Dia kecil dan kurus. Kulit putih dengan mata licik. Satu yang paling mengagetkan, gayanya yang sedikit lemah gemulai. Meski bukan banci, tapi sudah ada arah ke sana. Siang itu benar-benar awal bencana, kukira.

LO GA SAH MACEM2 DTG KE KOST GW SEGALA DEE!!! MENDING KITA GA SAH HUB LAGI DEH.

Aku harus mengancam supaya dia tidak memasuki kehidupanku terlampau jauh. Aku bukanlah jenis gay yang suka pamer dan show off kalau mereka punya keistimewaan bisa ereksi kepada sesama. Jadi aku paling tidak suka kalau privasiku dikorek terlalu jauh. Kalau mau menikmati aku ya sudah tapi tak usah sampai bfan segala. Apalagi pakai kenalan dengan teman kos, ibu kos, nanti jangan-jangan mau jadi keluarga aku lagi....!

PAN GW DAH BILANG GAK USAH COBA MERAYU DEH! GW PALING GAK SUKA LO MASUK TERLALU JAUH. PAKE KENALAN AMA ERI LAGI! GA USAH NEMUIN DIA LAGI TAU!

Eri adalah sobatku. Lebih dari sobat. Tapi bukan kekasih. Kami saling tau rahasia masing-masing. Aku tahu kalau dia juga punya hobi surfing gambar pria berotot telanjang. Bahkan kami saling melengkapi koleksi. Kadang kami juga nonton video porno bersama dan onani bersama, bahkan saling mengonani. Tapi tak lebih jauh dari itu. Aku tahu dia pria normal seperti aku. Tapi terkadang kami terdesak oleh hormon testosteron yang membuat libido tinggi. Aku tahu siapa pacar dan keluarganya begitu juga sebaliknya.

Itulah yang aku takutkan. Si KUTU KUPRET, begitu aku mulai memanggilnya, melesak terlampau jauh dan mengacaukan kehidupanku.
***

Hari-hariku berlalu tanpa seharipun terlewat sms dari si KUTU KUPRET. Sebenarnya aku sudah menjaga jarak dan tidak membalas smsnya. Tapi ada saja pesan yang membuatku ngeri. Pengetahuan tentang aku bertambah dari hari ke hari. Ada saja rahasia yang tak pernah aku cerita, dia bisa ungkap. Entah dari mana info itu, tapi tepat.

Aku sempat marah ke Eri supaya jangan bilang lebih jauh tentangku. Aku juga melarang dia lebih dekat dengan KUTU KUPRET. Bukan cemburu, tapi sekedar menjaga sobatku. Satu per satu sumber info aku pampat. Tapi ada saja info baru tentangku yang Kutu Kupret tahu. Jangan-jangan dia sudah pasang alat sadap atau kamera pengintai di kamarku. Aku jadi mulai paranoid.

Malam itu aku buka imelku. Ada satu kiriman foto. Kutu Kupret upload satu foto hitam putih. Itu foto aku berumur sekian bulan, tengkurap dan telanjang. Komentarnya: 'Kapan AA mau difoto telanjang lagi?' Shit! Dia dapat dari mana lagi...

***

Entah apa maksud Kutu Kupret. Semakin lama jadi semakin mengganggu. Hidupku jadi tak tenang.Seperti seorang yang membakar surat di kamar dan sekarang api menyambar selimut di kasur.

Aku datang ke rumah Eri kalau kalau dia yang memberikan foto itu. Padahal sebenarnya aku juga tahu kalau Eri tak mungkin menyimpan foto itu. Kecuali kalau Eri juga Kutu Kupret. Apalagi Eri pernah main ke rumahku waktu liburan semester.

Seperti biasa aku nyelonong langsung ke kamar Eri. Kubuka pintu kamar itu dan Shit!... Dibalik selimut putih itu ada Eri dan KUTU KUPRET telanjang. Mereka berdua kaget. Eri ketakutan sedang si Kutu Kupret dan tersenyum mengajak trisom. GILAAAA!!!

***

SORI ROB AKU KHILAF.

Itulah sms Eri beberapa hari kemudian. Menurutku artinya Eri akan mendengar kataku. Logikanya Eri tidak akan bertemu si Kutu Kupret lagi. Aku dengan mudah memaafkan Eri. Akupun tak mau membahas masalah foto itu lagi. Biar tetap jadi misteri.

Meski ada luka tapi kami mulai persahabatan kami kembali lagi. Tapi untuk sementara kami tidak membahas tentang seks dahulu sampai luka hatiku mendingin dan sembuh.

Anehnya semenjak itu sms dari si Kutu Kupret jauh berkurang. Kadang seminggu cuma sekali dan terkadang malah tidak ada sama sekali. Aku kangen tapi aku juga lega dan senang. Entah tak mau tahu lebih jauh tentang aku atau memang infonya sudah tak ada, aku tak tahu.

Tanpa Kutu Kupret kehidupanku mulai normal lagi. Hanya saja aku jadi lebih waspada ke teman chating dan fs. Aku mulai jadi tertutup dan mencurigai setiap ada teman yang meminta nomer hapeku.

***

Aku baru sadar kalau aku tak tahu banyak tentang Kutu Kupret. Entah karena kangen atau dendam, aku mulai surfing tentang kehidupan si Kutu Kupret. Nama aslinya ---, SH, Skomp. Haaa!! Umurnya lebih tua sekian tahun dariku. Dia OP sebuah chanel terkenal di dalnet. Menurut beberapa orang, kerjaannya adalah konsultan IT untuk Microsoft Indonesia. Gila gak tuh!

Ah mengetahui lebih banyak tentang seseorang membuatku kagum. Aku jadi suka dengan perjuangan dia. Aku kagum dengan prestasinya dua gelar sekaligus! Aku juga kagum dengan pekerjaannya. Aku tak ada apa-apanya, mahasiswa dan masih menodong ortu tiap bulan.

Aku mulai sms dia. Aku berhenti memanggilnya si KU... ah jangan disebut lagi. Berkali-kali aku minta maaf melalui sms. Pesanku terkirim tetapi tak berbalas. Rupanya dia marah padaku juga. Aku sms Eri tentangnya dan Eri bilang kalau dia sudah tidak berhubungan lagi. Selama ini aku tak pernah pedulikan perasaannya. Iya karena aku tak suka fisik luarnya.

***

Aku cerita ke Eri tentangnya. Eri mengangguk-angguk dan tersenyum. Eri tahu lebih banyak dari hasil surfingku. Eri memberi beberapa info tambahan yang melengkapi kekagumanku. Bila kubayangkan lagi tampangnya jadi tidak licik tapi cerdas. Fisiknya ... ah tak terlalu kurus juga hanya agak slim dan kencang, mungkin karena hobi jogingnya. Bukan cuma hobi karena ternyata dia pernah jadi atlet praPON untuk cabang atletik.

Tentang gaya bicaranya. Tak berubah. Memang agak lembut dan kemayu sedikit. Moga saja tak menjadi bencong.

***

Suatu ketika Eri mengajakku menunjukkan koleksi film terbarunya. Deg! Aku jadi teringat lagi.Tapi kucoba menepis.

Sepanjang jalan ke rumah Eri diwarnai dengan canda tawa seperti dulu. Aku suka suasana ini. Sobatku Eri sudah kembali. Semoga kami bisa onani bersama nanti.

Kami pun masih cekikikan masuk rumah Eri. Orang tuanya sedang pergi semua. Seperti biasa kami langsung menuju kamar Eri. Sewaktu membuka pintu....

Waks... ada dia di atas kasur Eri. Telanjang dada dengan bagian bawah di dalam selimut. Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Otakku tiba-tiba jadi hang. Kubalikkan badan dan lari.....

Lorong rumah Eri jadi panjaaanggg sekali. Kutu Kupreeeeeettttttttt!

12 February 2007

Kisah TEJO dan PARNO bag 1



(Diceritakan oleh Ripin, Si Tukang Kebun)


Awalnya Tejo dahulu yang jadi asistenku, sebulan kemudian Parno menyusul. Musim kemarau ini saat banyak tanaman memancarkan bunganya. Saat banyak pelanggan jalan-jalan sore dan membeli tanaman. Saat kemarau seperti ini juga banyak orang kaya butuh tukang taman untuk memelihara tanaman yang lupa disiram. Mereka ingin tanaman mereka tetap tampak hijau tanpa peduli air tanah yang dikonsumsi.

Tejo dan Parno pemuda desa polos yang menginjak usia 17an. Nafsu sex mereka sedang tinggi-tingginya. Aku tahu karena mereka sering beronani ketika mandi. Baik mandi pagi maupun mandi sore. Kebetulan dari jendela kamarku di bagian atas aku bisa melihat semua kegiatan mereka tanpa mereka ketahui. Awal-awal perkenalan mereka sih mereka mandi sendiri-sendiri tapi belakangan mereka lebih sering mandi bersama, baik pagi maupun sore.

Badan Parno dan Tejo sebenarnya hampir sama agak berotot. Bedanya cuma rambut, Rambut Tejo ikal sedangkan Parno lurus. Mungkin kalau digundul tidak ada yang bisa membedakan. Hitamnya sama, tinginya sama, bibirnya pun mirip, mungkin memang mereka masih saudara jauh kali....

Menjelang musim hujan di bulan September pekerjaan mereka mulai berkurang. Kegiatan paling melelahkan adalah menyiram tanaman. Kini hujan menggantikan mereka. Namun kurangnya kegiatan akan segera diganti dengan banyaknya langganan yang direpotkan dengan rumput liar dan tanaman yang tumbuh lebih cepat. Sore hari setelah mandi Parno dan Tejo sering pergi berdua entah kemana. Mungkin seperti pemuda yang lain, jalan-jalan atau sekedar ngeceng (bukan ngaceng!).

Malam sebelum kejadian itu, aku mendengar Tejo dan Parno mengobrol sampai malam. Kamar mereka adalah ruang tamu yang merangkap kantor di bawah. Oh ya jangan membayangkan bangunan tempat tinggalku itu mewah seperti milik kalian, para pembaca. Dindingnya terbuat dari bambu anyam sedang untuk memisahkan ruang bawah dan atas hanyalah papan, itu pun papan bekas yang tambal sana-sini. Jadi tak aneh kalau aku bisa mendengar bisik-bisik dan cekikik mereka di bawah.

Rasa kantukku menyerang sangat dahsyat sehingga aku ketiduran. Entah sampai jam berapa mereka ngobrol. Sekitar jam 3 pagi aku terbangun dan ingin kencing. Aku turun dari kamarku. Sebelum ke sumur, aku sempat menengok kalau-kalau mereka belum tidur. Pamandangannya sungguh ajaib Mereka tidur di lantai. Padahal biasanya Tejo sebagai senior memilih tidur di sofa yang lebih empuk. Tangan kiri Parno terselip di perut Tejo. Aku tak berpikir jauh mereka mungkin kedinginan sehingga tidur berpelukan.

Setelah aku kencing, sekelebat aku kembali tengok mereka. Posisi mereka belum berubah. Aku melihat lebih jelas karena tadi dari tempat yang gelap. Ada sebuah majalah di atas sofa. Tergeletak terbuka. Tepat gambar seorang pria sedang menyodomi seorang pria. Kontolnya kelihatan separuh cukup besar. Pria yang disodomi menampakkan kenikmatan (atau kesakitan). Majalah itu aku ambil. Di halaman lain banyak terdapat gambar-gambar pria berotot yang bugil alias telanjang bulat. Halaman depannya hilang dan bahasanya pun tak dapat kumengerti mungkin bahasa Jerman atau Belanda, entahlah.

Melihat majalah itu aku jadi ngaceng berat. Majalah itu kukembalikan ke posisi semula. Sebelum aku berbalik, bila kuamat-amati si Parno tidak memakai celana di balik sarungnya. Jangan-jangan Tejo pun begitu. Mungkin mereka telah saling memberi kenikmatan tadi.

Kuberanikan diri mengangkat sarung Tejo. Dasar anak puber, tidurnya pulas sekali. Kulihat peler si Tejo dalam kegelapan. Sewaktu kuangkat lebih tinggi lagi ah.. ada tangan, ya tangan si Parno masih menggenggam kontol si Tejo yang sudah mengkeret. Beberapa detik cukup merekam segala detail bentuk itu, masih kuingat, buktinya aku bisa cerita. Aku jadi penasaran dengan kontol Parno. Aku angkat sarung Parno tetapi sayang sarung itu tersangkut dan tidak bisa diangkat lebih tinggi tanpa membangunkan pemiliknya.

Aku kembali ke tempat tidur lagi setelah itu. Aku jadi tak dapat tidur teringat segala adegan yang telah aku lihat di dalam majalah tadi. Kontolku ngaceng berat dan terasa ngilu. Ah, daripada besok lemas karena kurang tidur aku memilih untuk onani. Seperti biasa akhinya aku mengocok sambil membayangkan segala yang terjadi antara Tejo dan Parno serta adegan-adegan di majalah tadi.

***

Jam setengah enam pagi aku dengar ada orang menimba sumur. Hmm rupanya memang benar Tejo dan Parno telah saling onani semalam. Buktinya mereka akan mandi junub pagi-pagi begini. Hari belum terang benar sehingga aku tidak berani buka jendela lebar-lebar. Aku hanya bisa mengintip mereka dari balik kain bekas iklan penutup jendela kamar.

Tejo telah telanjang bulat dan sedang mandi. Sedang Parno menimba sumur untuk memenuhi bak yang ada. Bunyi keletek timba dan deburan air ke dalam bak berganti-ganti. Sekarang Tejo mulai menyabuni tubuhnya dengan cepat. Tiba-tiba Parno membuka seluruh pakaian dan menyiramkan air di dalam timba ke tubuhnya.

"Berikan sabunnya" pinta Parno kepada Tejo yang masih menyabun.

"Nanti dong! atau kalau butuh sabun gesekkan aja badanmu ke badanku." kata Tejo menantang.

Parno tampak ragu. Dia mulai menggosokkan lengan ke punggung Tejo. Lalu punggungnya ke punggung Tejo. Pantatnya ke pantat Tejo. Mereka tampak lucu, seperti dua badut beradu pantat. Ingin rasanya aku tertawa sendiri. Tejo tampak cuek dan tetap menyabun bagian kakinya. Namun karena bagian belakang sudah habis sabunnya Parno berpindah ke depan dan memeluk Tejo dari depan dan mulai menggosok dadanya ke dada Tejo. Otomatis semua menempel termasuk kontol mereka.

Sekarang Tejo yang tampak kaget menghadapi pelukan Parno tak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba tangan Tejo yang ada di samping pinggang Parno mulai memeluk Parno dan menggosokkan sabun ke punggung Parno.

"No, terusin No, enak No!" ujar Tejo.

Rupanya Parno pun menikmati gesekan mainan jadi gesekan kenikmatan. Pantatnya tidak lagi ke samping kanan dan kiri namun menekan lembut ke atas dan bawah. Parno menggosokkan kontolnya ke perut Tejo, atau ke ke kontol Tejo aku kurang jelas. Yang jelas mereka berdua tampak kenikmatan.

Kejadian itu berlangsung entah beberapa puluh menit. Aku yang memandang mulai meremas kontolku sendiri. Kontolku mengeras melihat adegan itu. Kubuka kausku dan kupelorotkan sarungku. Aku telanjang dan ngaceng di kamar sendiri. Nafasku jadi cepat tanganku bergerak mengocok seirama dengan hentakan pantat si Parno.

Sabun di kedua tubuh anak muda mulai mengering. Tangan Tejo mendorong tubuh Parno. Tejo mengambil air dan mulai membasahi sabun di tangannya. Sabun dikocok sampai berbusa. Kontol Parno yang menganggur ditariknya mendekat. Lalu didekatkan pula kontolnya ke kontol Parno. Kedua kontol disabuni biar licin lalu disatukan dan pantat mereka bergerak untuk mencari kenikmatan masing-masing. Inikah onani bersama?

Kontolku kugenggam sendiri dan aku bergerak seperti mereka bergerak. Tubuh mereka membentuk huruf C bolak-balik seperti merek dompet mahal.

"Terus No. Enak No... ahhh uuuhhhh... " lenguh Tejo.

"Huuusssy.. jhhaa ngaan ber ri sikhhh ntiihh Mashh Rpinhh bangun..." timpal Parno

Ah mereka rupanya tak tahu kalau aku sebenarnya sudah bangun dan ikut beronani seperti mereka. Selain buku semalam dan adegan ini, aku belum pernah melihat laki-laki bersama mengumbar kenikmatan. Kalau gambar kartu remi laki dan perempuan aku pernah lihat, itu semasa aku jadi kondektur.

"Johh, kocokin aaahhh kontol kita hhh biar cepat keluar..." kata Parno.

Kali ini mereka tak membentuk huruf C saling terbalik lagi. Tejo memeluk pundak Parno dan meletakkan dagunya di sana. Sementara tangan kanannya mengocok kedua kontol itu. Matanya terpejam pejam keenakan. Aku pun berdiri tegak seakan ikut meraksakan kehangatan pelukan itu. Herannya aku suka.

"Trusshh Jooo aku hamp ... aaahhhhh..." Parno muncrat.

Tejo melepaskan kontol mereka namun masih mengocok kontol Parno tapi semakin pelan tapi mantap. Tangan Parno menepis tangan Tejo dan dia menyelesaikan kenikmatan itu sendiri. Sementara itu Tejo mengocok pelan kontolnya supaya tetap tegang tapi tak segera keluar. Tejo sabar menunggu Parno menyelesaikan hajat nikmatnya beberapa saat.

"Sekarang kamu kocokin punyaku lagi ya..." ujar Tejo saat tampak Parno akan mengambil air.

Rupanya benar semalam mereka telah saling onani. Segera tangan Parno meraih kontol Tejo menggantikan tangan Tejo. Parno berlutut di depan kontol Tejo, sangat dekat. Kukira Parno akan mengonani kontol Tejo dengan mulutnya. Ternyata tidak. Dia memandang lekat kontol yang berdenyut dan tampak kaku dan kencang itu. Sementara si empunya membiarkan dengan kepala tengadah menikmati setiap kocokan.

Kuikuti gerakan tangan Parno di kontol Tejo. Sehingga aku merasa akulah yang dionani. Kutambahkan efek suara sendiri. 'Ahh sshhhh shhhh...' jadi terasa lebih nikmatnya. Seperti lihat adegan film xxx.

Aku mengintip lagi. Kulihat Tejo memegang kepala Parno dan mendekatkan ke kontolnya. Rupanya dia minta dioral. Tapi rupanya Parno tidak mau. Dia mempertahankan kepala masih di depan kontol Tejo dan masih mengocoknya. Dia mengocok lebih cepat supaya Tejo cepat keluar.

Akupun demikian, kukocok kontolku yang telah mencapai panjang maksimal dengan cepat. Rasanya aku hampir keluar.. kurebahkan tubuh telanjangku ke atas kasur. Kubayangkan kontolku sedang menyodomi salah satu model di majalah telanjang semalam. Si model yang berotot itu merasa keenakan menikmati kontolku dalam anusnya.

Terasa enak sekali. Aku rasa maniku hampir keluar. Aku bangun lagi dan mengintip ke sumur di bawah. Belum sempat kubuka kain itu sedikit maniku muncrat. Aaaahhhh nikmat dan tubuhku berkedut kedut tak terkendali. Sebentar setelah reda, ternyata spermaku muncrat ke kain jendelaku. Ah sudah biar saja. Toh tak akan ada yang tahu. Nanti juga kering.

Saat kupandang ke bawah. Tejo dan Parno masih mandi. Langit sudah terang benderang. Kontol-kontol pemuda itu sudah lemas tapi masih tampak panjang menggantung. Tejo dan Parno menyelesaikan mandinya. Lalu mereka menutupi kemaluan mereka masing-masing dengan handuk. Sekarang Parno mencuci baju sedangkan Tejo menimba air untuk memenuhi bak.

***
(bersambung)

Tukang Kebung Gatal 1 <<<< Sebelum                                             Sesudah >>>>Kisah Tejo dan Parno 2