08 December 2013

BOY n ROY 1


CERITA SI BOY

Catatan penulis: Ceritanya berpindah agak cepat, disarankan membaca agak perlahan...

Namaku si Boy dan ini pengalamanku menjelang ujian akhir sebelum masuk SMU. Inilah cerita yang kuceritakan pada 'abang'ku yang jauh di sana. Abang tempat aku curhat dan tempat bertanya tentang hal-hal tabu yang tak mungkin aku tanyakan pada mamaku. Papaku sudah tidak tinggal serumah dengan kami hampir 2 tahun terakhir ini.

Hanya pada abangku aku tanya, kenapa tiapa pagi pasti tititku mengeras? kenapa ada cairan bening di ujungnya? apa namanya? apakah itu berbahaya? terus kadang aku ngompol kental. Ada cairan seperti ingus dengan bau yang aneh. Terus rasa-rasa lain juga pertanyaan-pertanyaan lain yang dengan bebas dan lepas aku bisa tanyakan.

Termasuk salah satunya cerita pengalaman pertamaku ini. Aku ceritakan... aku tanyakan... aku minta petunjuk abang. Bahkan saat hal itu terjadi.

Aku masih ingat saat itu hari valentine, 14 Februari. Tugas kelompok harus segera diselesaikan. Satu kelompok ada 4 orang, aku, Roy, Shandy, Dodo. Sedari pagi hujan mengguyur kota kami. Jam 9an aku coba sapa abangku yang sedang kerja di luar pulau sana.

'Bang, punyaku keras' sapaku melalui aplikasi hijau.

Aku merasa gelisah dan bingung. Aku pikir abang bisa menjelaskan. 

'Padahal sebentar lagi ada teman mau datang buat kerjakan tugas bang. gimana nih bang?'

Aku sendiri kurang mengerti, penyakit apa ini? Hampir tiap pagi pasti ada lendir di celana dalamku. Hampir, jadi tidak tiap hari loh... Abangku bilang mungkin karena produksi spermaku banyak.

Jam sudah melewati jam 10 pagi saat janjian kami untuk mengerjakan tugas. Shandy dan Dodo sudah sms kalau hujan tetap deras mereka akan terlambat atau tidak bisa datang. Tepat saat itulah Roy datang dengan basah kuyup.

"Kok, ga pakai payung Roy?"

"Kukira tadi sudah hampir reda..."

Roy adalah temanku sedari SD hingga sekarang. Meski selalu bersama tapi kami bukan sahabat yang sangat akrab. Kami hanya teman saja. Badannya tambah kekar saja belakangan. Auwww anuku mengeras lagi. Badan Roy tercetak jelas dibalik baju basahnya.

"Sebentar Roy, kuambilkan handuk"

Aku mengajaknya ke kamarku. Lalu dia ke kamar mandi untuk melepas baju basahnya dan mengeringkan badan. Aku hanya menunggu di kasur sambil melapor semua kejadian pada abang.

'Bang punyaku keras sekali, aku takut dia lihat Bang'

Abangku menyarankan agar aku mengendalikan pikiranku. Menurutnya ini semua adalah permainan pikiran. Brain game. Jadi abang minta agar aku mengalihkan pikiran agar tidak memikirkan tentang sex. Tapi susah sekali pada saat-saat seperti ini.

Roy keluar hanya mengenakan handuk putih yang kuberikan. Sepertinya dia juga sedang tegang. Abangku menyarankan agar meminjamkan baju untuk Roy. Tapi aku bingung karena kalau aku berdiri makaakan ketahuan Roy kalau aku sedang tegang. Aku berdiri juga dan berjalan agak membelakangi Roy ke arah lemari. Aku mengambil satu celana bola dan satu kaus. 

"Kamu kenapa?"

"Gak apa-apa?" jawabku.

Roy tampak curiga. Aku kembali ke kasur dan menutupi bagian bawahku dengan selimut lagi. Roy membuka handuknya dan membelakangiku. Badannya ahhh putih bagus. Eh, tapi kenapa penisku mengeras lagi. Aduuh ga tahan jadinya.

'Bang, kenapa aku begini?' tanyaku

'Bang aku sudah ga tahan. Aku ke toilet dulu Bang...'

Aku ke kamar mandi. Di sana aku menemukan baju Roy yang basah di gantung. Rasa penasaran dan ingin tahu menyergapku. Aku ambil celdam Roy yang basah. Tidak semua basah. Ada bercak putih mengering di bagian dalam sebelah depan celana dalam hitamnya.

'Cairan apa itu bang?'

Belum abangku menjawab. Aku menciuminya.... aku rasa aku ingin memakainya. Kulepas celanaku dan kukenakan celana Roy. Ah rasanya enak sekali... penisku semakin mengeras berdenyut.

'Aku merasa nyaman sekali bang...'

'Aku tapi kok merasa gelisah begini bang, knapa?'

Ada perasaan yang tak kumengerti. Aku merasa nyaman sekaligus tegang dan berdebar-debar.

'Dikocok dan dikeluarin saja dek, daripada nanti ga bisa konsentrasi mengerjakan tugas loh...'

Abangku menyarankan aku supaya onani saja.

'kolor basah punya orang kok dipakai, awas loh nanti menularkan penyakit' abangku memperingatkan.

'abg aku makin ga tahan, ini sudah lepas, tapi ujung adek kok mulai keluar lendir?'

Penisku tegak keras dan memerah dari ujungnya ada lendir bening. Abangku menjelaskan kalau itu yang namana air madi alias precum. Biasa keluar saat kita tegang sekali. Cairannya bening agak kental dan tidak berbau.

'rasany aku pengen ciumin kolor Roy terus bang'

"Woooy! Booy!! lama amat di kamar mandi? ngocok ya?" Roy menggedor pintu kamar mandi.

Aku diam saja. Aku ambil handuk dan membukakan pintu sebab dia bilang ga tahan karena mau pipis. Wajarlah kalau dingin-dingin gini kan bawaannya pengen pipis terus.

"Kok lama sih? bawa hape pula..." serang Roy.

"Kok pakai handuk?" tanya Roy matanya tertuju pada tonjolan penisku yang tak mampu aku sembunyikan.

"Iya mau mandi..." jawabku. Agak aneh suaraku seperti tercekat tak bisa keluar.

Roy memelorotkan celananya dengan santai di sampingku. Tapi bukannya pipis tapi dia menggenggam penisnya lalu mengocoknya. Mataku tak lepas melihat senjata Roy yang tampak tegang dan besar itu.

"Kamu balik badan, Boy!" perintahnya.

Roy membuka handukku. 

'Bang, dia minta aku balik badan napa ya?'

Kelihatan sudah. Penisku yang berdiri dan berdenyut di depan Roy. Lalu dia membalikkan badanku 
menghadap ke arah dinding.

"Ini kenapa Roy? Kamu mau apa?" tanyaku bingung dan khawatir.

Menurut abangku Roy akan memasukkan penisnya ke lubang pantat aku. Abangku juga menyuruhku agar meletakkan hape dulu dan merasakan kenikmatan. Entah apa maksudnya.

'Bang kok ada rasa hangat di pantat... ada yang mengganjal'

Abangku menanyakan apakah rasanya enak. Aku bingung tapi memang ada sedikit rasa enak. Roy  mengambil sabun untuk melumasi penisnya. Lalu mencoba menusukkan ke dalam pantatku lagi.

'Bang, apa ga papa bang?'

Abangku di jauh sana yang mengaku tegang juga menyarankan agar aku menikmati saja. 

"Roy kamu mau apain?" tanyaku

Roy diam saja. Dia mengarahkan penis yang berlumur sabun ke pantatku.

"Aaaarrrgh.... sakit Roy....!" Roy seakan tak peduli.

'Bang, gmana bang? Aku balik badan tapi ga kuat nolak... tolong Bang!' 

Roy memaju mundurkan penisnya. Mengocok di pantatku. Tangan Roy menggenggam dan mengocok penisku.

'Kamu harus santai, rileks, jangan ditahan apalagi nolak' saran abangku.

Tak tahan aku menelepon Abangku. 

"Sakit baaaang..." aku rasanya ingin menangis.

"Ya bilang ke dia dong..." saran abangku.

"Sakit sekali bbbaaanggg aaahhh" aku menahan sakit.

Lalu kumatikan teleponku.

Roy menusuk-nusuk pantatku dengan penisnya. 

'Awalnya memang sakit tapi lama kelamaan akan terasa enak' kata abangku lewat aplikasi chat.

'bang kok terasa hangat di dalam?'

Lalu Roy melepas penisnya dan mencucinya.

'cepet juga crotnya' kata abangku.

'crot itu apa bang?' 

Lalu akupun mencuci pantatku dan mengeringkannya dengan handukku dari sisa sabun.

'Coba kamu tanya dia, supaya menjelaskan semua yang sudah terjadi. Lalu kamu ceritakan padaku' pinta abangku karena aku banyak tidak paham.

Aku merasa malu menanyakan semua kepada Roy. Lagian sewaktu keluar dari kamar mandi aku lihat Roy sudah tiduran, istirahat mungkin dia mengantuk. Akupun merasa lemas sekali.

Banyak hal yang tidak aku pahami dari kejadian tadi. Kenapa si Roy mencuci penisnya padahal dia belum keluar spermanya. Aku juga bingung karena keluar spermaku kali ini rasanya berbeda daripada sebelum ini. Ada rasa hangat di dalam kurasa. Aku bertanya pada abangku apa mungkin kita keluar di dalam? tapi abangku berkeras kalau itu adalah sperma Roy yang keluar di dalam. Aku bingung bagaimana bisa keluar padahal penis Roy kan tidak dikocok....

Abangku menjelaskan pengeluaran sperma bukan hanya karena dikocok tapi karena rangsangan. Banyak macam rangsangan bisa berupa gesekan, sentuhan, dan juga dimasukkan pantat seperti tadi. Aku sempat agak berdebat sampai aku merasa hangat di pantat dan basah.

Aku ke kamar mandi untuk memeriksanya. Ternyata cairan kental putih, ya sperma. Kukira itu adalah spermaku yang keluar melalui pantat. Tapi Abangku menjelaskan kalau itu pasti sperma Roy yang keluar di dalam pantatku.

Inilah ceritaku dengan segala ketidaktahuanku.